Rabu, 27 Oktober 2010

penyusunan karya ilmiah kelompok 7

MAKALAH KELOMPOK
METODE PENULISAN KARYA ILMIAH
PENYAJIAN KARYA ILMIAH





                                                                                               

        BAMBANG SANTOSI                         09 22 223
        ROSITA                                                09 22 210
        RENI SUSANTI                                    09 22 471
        SURYA DINATA                                 09 22 281
        WINDA KARTIKA                              09 22 225
 YULYAN SARTIKA                             09 22 116

Kelas C. 3. II
Dosen Pembingbing :
Elfiana M. Pd


UNIVERSITAS BATURAJA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
2009/2010
PENYAJIAN KARYA ILMIAH
A.   Penyajian sebagai media komunikasi
     Komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian informasi atau pesan dari seseorang kepada  seorang atau sekelompok orang lain. Penyampaiannya dapat dilakukan dari cara yang sederhana sampai ke cara yang canggih menggunakan alat bantu. Alat bantu inilah yang merupakan media yaitu suatu bentuk atau chanel yang digunakan untuk mengirimkan informasi dari si pengirim kepada si penerima pesan. Ceramah ilmiah dan kuliah adalah contoh bentuk komunikasi yang dilakukan secara lisan (verbal).
B.   Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi
Ada beberapa hambatan yang sering terjadi dalam komunikasi yaitu :
1.    Ada kesulitan bagi hadirin dalam mendengarkan ceramah yang disampaikan. Ia mungkin mengantuk atau tertidur sejenak atau mungkin pula suasana sekitar di luar ceramah rebut.
2.    Pendengar mungkin tidak mengerti apa yang disimaknya, karena penyajian disampaikan dengan kata-kata yang sukar dicerna.
3.    Hambatan dapat juga timbul karena tidak sesuainya bahan yang disampaikan dengan tingkat pengetahuan hadirin.
4.    Materi yang disampaikan mungkin sudah dimengerti tetapi tidak diterima karena alas an yang rasional atau sebab lain.
5.    Pembicara tidak menyiapkan diri maupun materi serta cara penyajiannya dengan baik.

C.  Peranan alat bantu dengar-pandang
     Dalam proses komunikasi selalu terlibat 2 pihak, yaitu pembicara sebagai pihak pertama   dan pendengar sebagai pihak lainnya. Biasanya antara kedua pihak ini terjadi interaksi. Suara seorang pembicara yang terlalu lemah sehingga sulit ditangkap merupakan kekurangan yang dapat diatasi dengan bantuan alat bantu dengar, yaitu pengeras suara yang bermutu baik. Atau penyajian berupa tulisan atau gambar yang terlalu kecil tentu saja tidak mungkin menyampaikan pesan sesuai harapan. Dengan alat bantu pandang yang dapat memperbesar tulisan atau gambar tadi hal tersebut dapat diatasi dengan mudah.
Dari beberapa contoh diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi dua arah antara pembicara dan pendengarnya dipengaruhi oleh beberapa sebab. Bila tidak diatasi, hal ini kan menjadi hambatan komunikasi.
1)    Perbandingan daya serap informasi yang disampaikan melalui :
a.    Indera perasa                                               1%
b.    Indera peraba                                               1,5%
c.    Indera penciuman                           3,5%
d.    Indera pendengaran                                   11%
e.    Indera penglihatan                          83%
2)    Kemampuan mengingat informasi yang disampaikan melalui :
a.    Bacaan                                                          10%
b.    Pendengaran                                               20%
c.    Penglihatan                                      30%
d.    Penglihatan & pendengaran                     50 %
3)    Kemampuan mengingat informasi dengan cara penyajian :
  Sesudah 3 jam       sesudah 3 hari
a.    Verbal                                                           70%                        10%
b.    Visual                                                 72%                       20%
c.    Verbal & visual                                 85%                       65%
4)    Efektivitas penyampaian pesan dengan keterlibatan indera :
a.    ABDP dengan penggiatan indera pendengaran                      15%
b.    ABDP dengan penggiatan indera pendengaran                      55%
Dan penglihatan
c.    ABDP dengan penggiatan indera pendengaran,         90%
Penglihatan, otak dan tangan
D.  Macam-Macam Alat Bantu Dengar-Pandang
Alat bantu dengar-pandang mulai berkembang sejak tahun 1950an, sesuai dengan berkembangnya teknologi serta komunikasi massa. Alat bantu dengar-pandang dikenal sebagai alat bantu pendidikan yang biasa disebut alat peragayang mempermudah proses   belajar-mengajar di kelas atau ruang kelas. Media komunikasi dapat dibagi dalam beberapa golongan, yaitu :
1.    Media elektronik dan non-elektronik
2.    Media audio, visual dan audio visual
Audio yaitu yang dapat mengeluarkan suara atau didengar. Visual yaitu yang dapat dilihat, diraba. Audio visual yaitu film, kaset video.
3.    Media cetak dan non cetak
      Media komunikasi penyajian lisan dapat dikemukakan macam-macam media yaitu :
1.    Media model
2.    Media gambar
3.    Media grafis, seperti peta, table dll
4.    Media audio, seperti kaset, radio dll
5.    Media proyeksi diam, seperti OHT atau Bingkai. Dalam penggunaan film bingkai, biasanya ruangan digelapkan atau minimal diredupkan supaya gambar atau tulisan tampak jelas. Alat ini mudah disimpan dan bila diperlukan dapat digunakan kembali. Penayangan alat ini membutuhkan sebuah proyektor film bingkai.
6.    Media proyeksi bergerak, seperti televise
7.    Media permainan dan simulasi
E.   Indikasi dan Cara Pemakaian Alat-Alat Bantu Dengar-Pandang
                 Sebelum kita menentukan alat bantu yang akan dipakai, hal-hal berikut ini perlu dipertimbangkan. Tujuan yang ingin dicapai dengan penyajian, serta tingkat pengetahuan pendengar sebaiknya diketahui terlebih dahulu.
F.  Persiapan Penyajian
Betapapun baiknya alat bantu dengar-pandang yang kita pakai, penyajian akan tetap sia-sia tanpa adanya persiapan matang dari penyaji. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dibutuhkan persiapan seoptimal mungkin. Persiapan ini meliputi :
1.    Persiapan Diri
Berdiri di depan forum perlu suatu keyakinan atau rasa percaya diri (self confidence). Keyakinan semacam ini akan makin menebal bila si penyaji betul-betul menguasai bahan-bahan yang akan disajikan. Untuk mencapai ini jelas perlu persiapan diri yang betul-betul matang. Paling tidak kita sudah harus menguasai pokok-pokok bahasan yang akan dikemukakan.
2.    Keterampilan
Seorang pembicara yang efektif hendaknya mampu berkonsentrasi dan bertukar pandang dengan lawan bicaranya
3.    Teknik
Ada empat unsur teknik yang penting dalam mengembangkan keterampilan berbicara di depan public, yaitu :
a.    Posisi tubuh, Postur seorang pembicara mampu mengisyaratkan pesan-pesan tertentu.
b.    Bahasa atau gerak gerik tubuh,  pembicara yang berpengalaman akan memamfaatkan gerak gerik tubuh dengan wajah yang ekspresif.
c.    Kontak mata, kontak mata langsung antara pembicara dan hadirin merupakan bagian penting untuk interaksi antar pribadi. Ada dua mamfaat yang dirasakan dari tatapan mata antara pembicara dengan hadirin ini. Pertama, kontak mata dapat membangkitkan minat hadirin. Kedua, kontak mata terpelihara akan memancarkan energi. Ia mampu menghidupkan kata-kata, karena hal ini menimbulkan kesan sebagaimana layaknya orang yang sedang bercakap-cakap.
d.    Suara, untuk mempertahankan perhatian dan konsentrasi hadirin, ada empat variable yang berkaitan dengan suara :
1)    Kecepatan (pace) penyajian. Kadang-kadang kita perlu cepat, namun ada kalanya lambat.
2)    Pola nada (pitch). Mulailah dengan suara yang dalam, di antara tinggi dan rendah.
3)    Kekuatan (power) suara hendaknya diubah-ubah. Untuk bagian penting, turunkanlah kekuatan suara, karena penurunan ini ternyata lebih berpengaruh daripada peningkatan suara.
4)    Istirahat (pause). Beri kesempatan kepada hadirin untuk beristirahat di antara kalimat-kalimat yang di ucapkan, supaya mereka mampu mencernakan apa yang baru dilihat dan didengarnya.
4.    Kesan pertama
5.    Rasa percaya diri
Pada saat berdiri di  mimbar pembicara tunjukkanlah rasa percaya diri. Kata-kata pembukaan seorang penyaji harus memperlihatkan penampilan serta memperdengarkan suaracyang membuktikan bahwa ia penuh rasa percaya diri.
6.    Rasa Gugup
Pembicara yang belum berpengalaman sering kali dihantui perasaan gugup dan cemas pada saat saat sebelum mulai berbicara. Memang ada beberapa orang yang baru bisa tampil sebaik-baiknya bila mereka santai. Disarankan untuk mengambil langkah-langkah yang biasa dipakai untuk mencapai keadaan santai. Seperti tarik nafas dalam-dalam dan kendurkanoto-oto dari mulai bahu terus ke lengan sampai ujung jari.

G. Pelaksanaan Penyajian
      Kini tibalah kita pada saat penyajian yang sudah dijadwalkan. Sebaiknya hadirlah 5-10 menit lebih awal di ruang siding. Hal ini perlu agar kita mendapat gambaran menyeluruh tentang suasana penyajian yang akan berlangsung di dalam ruangan itu. Periksalah apakah alat bantu yang kita pakai sudah terpasang dengan baik, demikian oula apakah alat penunjuk (pointer) sudah tersedia (biasanya alat ini disediakan panitia). Pada masa kini sudah lazim digunakan penunjuk laser (laser pointer).
H. Cara pendekatan penyampaian
1.    Cara spontan
Metode ini digunakan oleh pembicara yang percaya bahwa ia pasti padam dengan pendengarannya. Sesuai dengan suasana hati merek ketika ia mulai dan ketika pembicaraan berkembang, dan karena itu ia tidak perlu melakukan persiapan sebelumnya.
2.    Dengan persiapan

I.  Struktur pembicaraan
        Dalam teknik penyampaian pesan secara lisan ini ada empat hal yang perlu diperhatikan  yaitu :
1.    Momen-momen penting dalam pembicaraan
Ada pola yang boleh dibilang konsisten yang menyangkut konsentrasi pendengar yaitu bahwa perhatian berada pada titik tertinggi untuk periode yang sangat singkat, mungkin tidak lebih daripada beberapa kalimat dan ini terjadi pada saat pembukaan.
2.    Bagian-bagian penghubung
Sekali lagi hendaknya selalu diingat, bahwa selama bagian utama pembicaraan justru konsentrasi pendengar lebih rendah daripada bagian awal dan akhir. Namun, pembicara yang sukses dan menyadari hal ini akan terus menerus berupaya menyegarkan kembali perhatian dan konsentrasi pendengranya.
3.    Penggunaan humor
Sebagian ahli menganjurkan humor pada awal pembicaraan sebagai suatu prosedur rutin. Hal ini akan membuat pendengar lebih santai dan hasil pembicaraan lebih dapat diterima.
4.    Selesai tepat waktu
Pembicara yang baik, begitu pula pendengranya sangat ,enghargai dan sadar akan pentingnya waktu. Ia berusaha memenuhi harapan tentang waktu yang digunakannya untuk berbicara sekaligus menghargai waktu orang-orang yang sudah mau duduk menjadi pendengarnya. Hadirin biasanya tidak terlalu perduli, bila seorang pembicaraselesai hanya beberapa saat lebih cepat atau lebih lambat daripada waktu yang ditetapkan sebelumnya. Namun akan menjadi sangat mengecewakan bahkan mungkin menjengkelkan mereka bila yang terjadi dalah hal sebaliknya. Itulah sebabnya sangat dianjurkan untuk melakukan tindakan pengendalian waktu sebelum penyajian berlangsung, supaya penyajian selesai tepat waktu.
J.   Acara diskusi
       Sudah dimaklumi bahwa hampir setiap ceramah biasanya diikuti dengan acara diskusi. Acara diskusi yang menarik dan intensif sebetulnya merupakan suatu bentuk penghargaan bagi setiap pembicara. Secar prinsip bahwa diskusi adalah suatu komunikasi timbale balik secara langsung antara dua orang atau lebih untuk memperdalam pemahaman suatu masalah, agar sedapat mungkin dicapai kesepahaman.
K.   Evaluasi Pasca Penyajian
       Setelah fase penyajian, bahkan sebelum kita sempat kembali ke tempat duduk, mungkin kita sudah segera melakukan evaluasi tentang penyajian kita. Bisa saja terjadi, bahwa kita merasa ada bagian yang terlupakandari sekian banyak bahan yang seharusnya tadi dikemukakan. Catatlah saja apa yang kita rasakan sebagai kekurangan dan kelebihan. Dengan cara ini kita tidak akan mengulangi kesalahan serupa pada waktu-waktu yang akan datang.










DAFTAR PUSTAKA
·         Lucas, S. E. 1992. The Art of Publik Speaking, Ed. 5. McGraw-Hill. Inc
·         Mears A. G. 1989. The Right Way to Speak in Public, Ed. 8. Cox Wymen Ltd. KIngswood Surrey Great Britain.


penyusunan karya ilmiah kelompok 3

MAKALAH KELOMPOK
METODE PENULISAN KARYA ILMIAH
PENYUSUNAN PARAGRAF DAN KALIMAT





                                                                                               

        DESITA AFRIANTI                             09 22 372
        ENI ASTUTI                                         09 22 378
        REDI FERNANDA                               09 22 380
        WINDRI IRAWAN                               09 22 384
        YOSI SUNDARI                                   09 22 375

Kelas C. 3. II
Dosen Pembingbing :
Elfiana M. Pd



UNIVERSITAS BATURAJA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
2009/2010
PENYUSUNAN PARAGRAF DAN KALIMAT
A.   PARAGRAF
Paragraf atau alinea ialah bagian terkecil dalam karya tulis yang menyatakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih luas dari kalimat (Keraf, 1984). Paragraf biasanya terdiri atas kalimat-kalimat yang dirangkai saling berpautan membentuk suatu kesatuan yang runtun dan berkesinambungan. Dalam sebuah paragraf hanya dipaparkan satu topik atau gagasan saja.
Johannes mendefinisikan gaya bahasa tulis sebagai keseluruhan hasil pemilihan kata serta cara menyusun kata-kata itu dalam kalimat, kalimat dalam paragraf, dan paragraf dalam karangan. Gaya bahasa lisan didefinisikan sebagai keseluruhan hasil pemilihan kata. Cara menyusun kata-kata itu dalam kalimat, serta cara mengucapkannya dengan lagu (intonation), irama (rhytm), jeda (pause), tekanan suara, perubahan air muka, dan gerak badan (Johannes, 1979).
Kalau kita perhatikan kedua defenisi tersebut, menjelaskan bahwa dalam ragam tulis karangan perlu dibagi menjadi paragraph - paragraf, sedangkan dalam karangan yang disampaikan secara lisan, seperti pidato. Pembagian karangan menjadi paragraf dapat diimbangi oleh lagu, irama, jeda, tekanan suara, perubahan air muka, dan gerak anggota badan.
Pada hakekatnya menulis karangan yang baik adalah pekerjaan menulis paragraf dengan baik dan merangkainya dalam runtunan yang masuk akal (Sakri, 1988).
Tujuan pembentukan paragraf yaitu :
1.    Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain.
2.    Memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal.
Syarat paragraf yang baik yaitu :
1.    Kesatuan, semua kalimat yang menyusun paragraph bersama-sama menguraikan dan terpusat pada satu tema atau gagasan saja.
2.    Koherensi, ada kekompakan hubungan antara kalimat-kalimat yang membentuk paragraph. Dapat digunakan kata ganti, kata transisi atau pengulangan kata kunci (Arifin & Tasai, 1993).
a.    Kata ganti, untuk merangkai kalimat dalam paragraph ialah :
1)    Kata ganti orang pertama, kedua atau ketiga, tunggal atau jamak. Seperti saya, kami, kamu, saudara dll.
2)    Kata ganti orang lain. Seperti di sini, di sana, ke sana, begitu, demikian.
b.    Kata Transisi, digunakan untuk menunjukkan berbagai hubungan, seperti :
1)    Hubungan tambahan yaitu selanjutnya, di samping itu.
2)    Hubungan pertentangan yaitu tetapi, namun.
3)    Hubungan perbandingan yaitu sementara itu.
4)    Hubungan akibat yaitu maka, oleh sebab itu.
5)    Hubungan tujuan yaitu untuk itu.
6)    Hubungan singkatan yaitu akhirnya, kesimpulannya.
7)    Hubungan waktu yaitu kemudian, selanjutnya.
8)    Hubungan tempat yaitu berdekatan dengan itu (Arifin & Tasai, 1993).
c.    Pengulangan kata kunci, untuk menghindarkan kebosanan di pihak pembaca, pengulangan ini perlu dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu sering (Sakri, 1998, Arifin & TAsai, 1993).
3.    Pengembangan atau rincian, paragraph harus dikembangkan agar memiliki isi yang memadai, memiliki sejumlah rincian yang terpilih untuk mendukung gagasan utama (Keraf, 1984, Sakri, 1988).
4.    Kesejajaran atau paralelisme. Bila dalam sebuah paragraf diuraikan beberapa rincian dalam bentuk butir-butir, baik yang disusun dari atas ke bawah maupun dari kiri ke kanan, maka butir-butir tersebut hendaknya diungkapkan dalam bentuk yang sejajar atau parallel.
5.    Keterbatasan pada pola, kadang kala sebuah paragraf terasa kurang lancar karena penulis kurang taat asas atau kurang konsisten pada pokok yang diuraikan. Jadi, ketaat-asasan pada pola perlu dijaga (Sakri, 1988).
B.   Macam-Macam Paragraf
Menurut tujuannya ada tiga macam paragraph yaitu :
1.    Paragraf pembuka penghantar pembaca memasuki materi yang akan diuraikan dalam paragraf selanjutnya.
2.    Paragraf penghubung berisi pokok persoalan yang akan dikemukakan. Oleh karena itu, pembuatan paragraf ini memerlukan kecermatan.
3.    Paragraf penutup digunakan untuk menutup karangan atau bagian karangan dan biasanya berisi kesimpulan, harapan atau saran.



C.   Kalimat Topik
Dalam suatu paragraf biasanya terdapat kalimat topic atau kalimat pokok. Kalimat-kalimat lain yang turut membina paragraf itu memuat rincian lebih lanjut tentang gagasan utama. Kalimat topic dapat ditempatkan pada awal paragraf maupun akhir paragraf.
Cara Pengetikan Paragraf ada 2 cara yakni :
1.    Sistem indentasi, awal paragraf diketik masuk beberapa ketukan dari garis tepi kiri.
2.    Sistem blok, awal paragraf diketeik pada garis tepi kiri dengan membuat spasi antara paragraf tersebut dengan baris di atasnya, lebih besar daripada spasi yang digunakan dalam pengetikan naskah.
D.   Kalimat
Kalimat ialah satuan terkecil dalam karangan yang menyampaikan suatu gagasan. Kalimat yang lengkap mempunyai banyak subjek dan predikat, dengan atau tanpa objek dan keterangan lain. Sebuah kalimat dianggap efektif apabila kalimat itu mampu menyampaikan gagasan tepat seperti yang dimaksudkan penulis atau pembicaranya dan menimbulkan minat pada pembaca atau pendengarnya. Ciri-ciri kalimat efektif yaitu :
1.    Struktur yang benar, antara lain ditandai dengan adanya subjek yang jelas dan predikat yang jelas pula. Kejelasan subjek dapat dijaga dengan menghindarkan penempatan kata depan seperti di, Dalam, pada, bagi, untuk. Di depan subjek, demikian juga kata karena, sebagai, tentang, mengenai, berdasarkan. Kata predikat dapat dijaga dengan menghindarkan penempatan kata yang di depan predikat. Kadang kal dijumpai kalimat yang membingungkan dan rancu karena predikat sulit ditemukan. Penempatan kata depan yang tidak tepat dapat pula mengganggu struktur sebuah kalimat. Demikian juga, keterangan yang ditempatkan secara tidak benar dapat mengganggu struktur kalimat.
2.    Diksi yang tepat, diksi yaitu pilihan kata yang tepat sangat penting agar pesan dapat diterima secara efektif. Penulis mahir mampu membedakan nuansa-nuansa berbagai arti kata dan menguasai kosa kata yang luas. Dengan demikian, kata-kata yang dipilih dan disusunnya dalam gaya yang menarik.
3.    Bentuk yang sejajar, kesejajaran bentuk aialah penggunaan bentuk yang sama bagi kata-kata atau yang menduduki fungsi yang sama dalam kalimat.
4.    Gagasan yang masuk akal, selain struktur yang benar, diksi yang tepat, dan bentuk yang sejajar, kalimat juga harus menyampaikan gagsan yang masuk akal.
E.   Penekanan
Dalam sebuah kalimat, mungkin ada kata yang dipentingkan dan harus mendapat tekanan dari unsur-unsur lain. Dalam bahasa tertulis penekanan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara :
1.    Posisi dalam kalimat
2.    Repetisi, kata yang penting dapat pula ditonjolkan dengan melakukan repetisi atau pengulangan. Contoh : kemajuan menyangkut kemajuan di segala bidang, kemajuan kesadaran politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berekonomi, kesadaran berkebudayaan, dan kesadaran beragama.
3.    Pertentangan, penekanan pada kata yang penting dapat pula dilakukan dengan mengadakan pertentangan.
4.    Partikel penekanan, beberapa partikel penekanan yang bberfungsi untuk menonjolkan kata yang dianggap penting ialah –lah, -kah, -tah dan pun.














DAFTAR PUSTAKA
·         Arifin, E. Z & Tasai. 1993. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Ed ke-3 PT Medyatama Sarana Perkasa.
·         Keraf, G. 1988. Diksi dan Gaya Bahasa. Pt Gramedia. Jakarta.
·         Sakri, A. 1988. Belajar Menulis Lewat Paragraf. Penerbit ITB. Bandung.