Minggu, 08 Mei 2011

perkembangan bahasa

PERKEMBANGAN BAHASA

A.     Pengertian Perkembangan Bahasa
Seorang ahli perkembangan dari Illionois State University bernama Laura E. Berk (1989) setelah mempelajari dan meneliti berbagai aspek perkembangan individu, sampailah dia pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan bahasa merupakan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Tahun pertama seorang anak mampu menggunakan kata-kata tunggal untuk memberi nama terhadap objek-objek yang dipandang akrab olehnya dan untuk mengkomunikasikan keinginannya. Begitu anak sudah memasuki tahun ketiga mereka langsung sudah mampu menunjukan pemahaman yang demikian halus tentang berbagai kesepakatan yang biasa digunakan dalam berkomunikasi dengan orang-orang sekelilingnya. Ketika memasuki tahun keempat, dengan bekal kosakata yang sudah semakin banyak, individu sudah mampu menghasilkan ucapan-ucapan yang lebih panjang dan menunjukkan bahwa dia sudah memiliki sejumlah bentuk gramatika yang bagus, termasuk di dalamnya etika mengungkapkan bahasa.
B.     Tahapan Perkembangan Anak
Secara umum, perkembangan keterampilan berbahasa pada individu menurut Berk (1989) dapat dibagi kedalam empat komponen, yaitu :
1.      Fonologi (phonology), yaitu berkenaan dengan bagaiamana Individu memahami dan menghasilkan bunyi bahasa.
2.      Semantic (semantics), yaitu merujuk kepada makna kata atau cara yang mendasari konsep-konsep yang diekspresikan dalam kata-kata kombinasi kata.
3.      Tata bahasa (grammar), yaitu merujuk kepada kosakata dan memodifikasikan cara-cara yang bermakna. Pengetahuan tentang grammar meliputi dua aspek utama, yaitu :
a.       Sintak (syntax), yaitu aturan-aturan yang mengatur bagaimana kata-kata disusun ke dalam kalimat yang dapat dipahami.
b.      Morfologi (morphology), yaitu aplikasi gramatikal yang meliputi jumlah, tenses, kasusu, pribadi, gender, kalimat aktif dan berbagai makna lain dalam bahasa.
4.      Pragmatic (pragmatics), yaitu merujuk kepada sisi komunikatif dari bahasa. Ini berkenaan dengan bagaimana menggunakan bahasa dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain.
Dilihat dari perkembangan umur kronologis yang dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berbahasa individu, tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam tahap-tahap sebagai berikut :
1.      Tahap pralinguistik atau meraban (0,3-1,0 tahun)
Pada tahap ini anak mengeluarkan bunyi ujaran dalam bentuk ocehan yang mempunyai fungsi komunikatif.
2.      Tahap holofrastik atau kalimat satu kata (1,0-1,8 tahun)
Pada usia sekitar 1 tahun anak mulai mengucapkan kata-kata. Satu kata yang diucapkan oleh anak-anak harus dipandang sebagai satu kalimat penuh mencakup aspek intelektual maupun emosional sebagai cara untuk menyatakan mau tidaknya terhadap sesuatu. Contoh anak yang menyatakan “mobil” dapat berarti “saya mau main mobil-mobilan”.
3.      Tahap kalimat dua kata (1,6-2,0 tahun)
             Pada tahap ini anak mulai memiliki banyak kemungkinan untuk menyatakan      kemauannya dan berkomunikasi dengan menggunakan kalimat sederhana yang      disebut dengan istilah “kalimat dua kata” yang dirangkai secara tepat. Misalnya, anak          mengucapkan “mobil-mobilan siapa?”.
4.      Tahap pengembangan tata bahasa awal (2,0-5,0 tahun)
             Pada tahap ini anak mulai megembangkan tata bahasa, panjang kalimat mulai     bertambah, ucapan-ucapan yang dihasilkan semakin kompleks, dan mulai      menggunakan kata jamak.
5.      Tahap pengembangan tata bahasa lanjutan (5,0-10,0 tahun)
          Pada tahap ini anak semakin mampu mengembangkan struktur tata bahasa yang   lebih kompleks lagi serta mampu melibatkan gabungan kalimat-kalimat sederhana      dengan komplementasi, relativasi, dan konjungsi.
6.      Tahap kompetensi lengkap (11,0 tahun-dewasa)
          Pada akhir masa kanak-kanak, perubahan kata terus meningkat, gaya bahasa        mengalami perubahan, dan semakin lancar serta fasih dalam berkomunikasi.
C.     Hubungan Kemampuan Berbahasa Dengan Kemampuan Berpikir
       Berpikir pada dasarnya merupakan rangkaian proses kognisi yang bersifat pribadi atau pemrosesan informasi yang berlangsung selama munculnya stimulus sampai dengan munculnya respons (Morgan, 1989). Dalam proses berpikir digunakan simbol-simbol yang memiliki makna atau arti tertentu bagi masing-masing individu. Manifestasi dari proses berpikir manusia serta sekaligus menjadi karakteristik dari proses berpikir manusia adalah bahasa (Glover, 1987).
D.     Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja
       Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh perkembangan kognitif yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, remaja mulai mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berpikir formal atau berpikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komprehensif.
E.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
         Aliran nativisme berpandangan bahwa perkembangan kemampuan berbahasa seseorang ditentukan oleh factor-faktor bawaan sejak lahir yang diturunkan oleh orang tuanya. Aliran empirisme atau behaviorisme justru berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa perkembangan kemampuan berbahasa seseorang tidak ditentukan oleh bawaan sejak lahir melainkan ditentukan oleh proses belajar dari lingkungan sekitarnya. Jadi, menurut aliran ini proses belajarlah yang sangat menentukan perkembangan kemampuan bahasa seseorang. Aliran konvergensi merupakan kolaborasi dari factor bawaan dan pengaruh lingkungan.
            Secara rinci dapat didefenisikan sejumlah factor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai berikut :
1.      Kognisi
                  Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat       lambatnya perkembangan bahasa individu.
2.      Pola komunikasi dalam keluarga
          Dalam satu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah atau interaksinya     
  relative demokratis akan mempercepat perkembangan bahasa anggota keluarganya.
3.      Jumlah anak atau anggota keluarga
        Suatu keluarga yang memiliki banyak anak atau banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan keluarga yang hanya memiliki anak tunggal.
4.      Posisi urutan kelahiran
                  Perkembangan bahasa anak yang posisi urutan kelahirannya ditengan akan        lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu.
5.      Kedwibahasaan (bilingualism)
                  Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari      satu akan lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang                  hanya menggunakan satui bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa          secara bervariasi.
F.      Perbedaan Individual dalam Perkembangan Bahasa
       Dalam konteks perbedaan individual ada isu yang sangat menarik untuk dipaparkan di sini, yaitu bahwa dalam perjalanan sejarah penelitian perkembangan penguasaan bahasa oleh individu ada yang menganut pandangan universal atau kesamaan dan ada yang menganut pandangan perbedaan individual.

G.     Upaya Perkembangan Bahasa dan Implikasinya Bagi Pendidikan
       Jika perkembangan kemampuan berbahasa merupakan konvergensi atau perpaduan dari factor bawaan dan proses belajar dari lingkungannya, intervensi pendidikan yang dilakukan secara terencana dan sistematis menjadi sangat penting. Hanya mengandalkan factor bawaan yang diturunkan oleh orang tua adalah keputusan yang tidak bijaksana karena hasilnya yang kurang memuaskan. Intervensi pendidikan melalui proses belajar dari lingkungan dapat diupayakan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perkembagan bahasa secara optimal. Lingkungan yang dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dan berlatih mengembangkan kemampuan bahasa perlu dikembangkan secara maksimal, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
       Agar kemampuan berbahasa remaja dapat berkembang secara optimal, sejak dini anak perlu diperkenalkan dengan lingkungan yang memiliki kemampuan berbahasa yang variatif.
DAFTAR PUSTAKA
Sunarto dan hartono, Agung. Perkembangan Peserta didik (Perkembangan Bahasa). Jakarta : Rineka Cipta, 1995

Jumat, 25 Februari 2011

karya ilmiah kel 8 sem 3


Program Studi
Karya Ilmiah
Publikasi Ilmiah Melalui Media Cetak























Oleh :
Kelompok 8
Nama           1. M. Ali Syahbana (09 22 356 )
               



Dosen Mata Kuliah: Elfiana, M.Pd.

Program Studi Teknologi Pendidikan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BATURAJA
2010 / 2011

karya ilmiah kel 7 sem 3

RESUME KELOMPOK
METODE PENULISAN KARYA ILMIAH
PENYAJIAN KARYA ILMIAH






                                                                                               

        M. Ali Syahbana                                   09 22 356


Kelas C. 3. II
Dosen Pembingbing :
Elfiana M. Pd


UNIVERSITAS BATURAJA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
2009/2010



PENYAJIAN KARYA ILMIAH
A.   Penyajian sebagai media komunikasi
     Komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian informasi atau pesan dari seseorang kepada  seorang atau sekelompok orang lain. Penyampaiannya dapat dilakukan dari cara yang sederhana sampai ke cara yang canggih menggunakan alat bantu. Alat bantu inilah yang merupakan media yaitu suatu bentuk atau chanel yang digunakan untuk mengirimkan informasi dari si pengirim kepada si penerima pesan. Ceramah ilmiah dan kuliah adalah contoh bentuk komunikasi yang dilakukan secara lisan (verbal).
B.   Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi
Ada beberapa hambatan yang sering terjadi dalam komunikasi yaitu :
1.    Ada kesulitan bagi hadirin dalam mendengarkan ceramah yang disampaikan. Ia mungkin mengantuk atau tertidur sejenak atau mungkin pula suasana sekitar di luar ceramah rebut.
2.    Pendengar mungkin tidak mengerti apa yang disimaknya, karena penyajian disampaikan dengan kata-kata yang sukar dicerna.
3.    Hambatan dapat juga timbul karena tidak sesuainya bahan yang disampaikan dengan tingkat pengetahuan hadirin.
4.    Materi yang disampaikan mungkin sudah dimengerti tetapi tidak diterima karena alas an yang rasional atau sebab lain.
5.    Pembicara tidak menyiapkan diri maupun materi serta cara penyajiannya dengan baik.

C.  Peranan alat bantu dengar-pandang
     Dalam proses komunikasi selalu terlibat 2 pihak, yaitu pembicara sebagai pihak pertama   dan pendengar sebagai pihak lainnya. Biasanya antara kedua pihak ini terjadi interaksi. Suara seorang pembicara yang terlalu lemah sehingga sulit ditangkap merupakan kekurangan yang dapat diatasi dengan bantuan alat bantu dengar, yaitu pengeras suara yang bermutu baik. Atau penyajian berupa tulisan atau gambar yang terlalu kecil tentu saja tidak mungkin menyampaikan pesan sesuai harapan. Dengan alat bantu pandang yang dapat memperbesar tulisan atau gambar tadi hal tersebut dapat diatasi dengan mudah.
Dari beberapa contoh diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi dua arah antara pembicara dan pendengarnya dipengaruhi oleh beberapa sebab. Bila tidak diatasi, hal ini kan menjadi hambatan komunikasi.
1)    Perbandingan daya serap informasi yang disampaikan melalui :
a.    Indera perasa                                               1%
b.    Indera peraba                                               1,5%
c.    Indera penciuman                                       3,5%
d.    Indera pendengaran                                   11%
e.    Indera penglihatan                                      83%
2)    Kemampuan mengingat informasi yang disampaikan melalui :
a.    Bacaan                                                          10%
b.    Pendengaran                                               20%
c.    Penglihatan                                                  30%
d.    Penglihatan & pendengaran                     50 %
3)    Kemampuan mengingat informasi dengan cara penyajian :
  Sesudah 3 jam       sesudah 3 hari
a.    Verbal                                                           70%                        10%
b.    Visual                                                 72%                       20%
c.    Verbal & visual                                 85%                       65%
4)    Efektivitas penyampaian pesan dengan keterlibatan indera :
a.    ABDP dengan penggiatan indera pendengaran                      15%
b.    ABDP dengan penggiatan indera pendengaran                      55%
Dan penglihatan
c.    ABDP dengan penggiatan indera pendengaran,         90%
Penglihatan, otak dan tangan
D.  Macam-Macam Alat Bantu Dengar-Pandang
Alat bantu dengar-pandang mulai berkembang sejak tahun 1950an, sesuai dengan berkembangnya teknologi serta komunikasi massa. Alat bantu dengar-pandang dikenal sebagai alat bantu pendidikan yang biasa disebut alat peragayang mempermudah proses   belajar-mengajar di kelas atau ruang kelas. Media komunikasi dapat dibagi dalam beberapa golongan, yaitu :
1.    Media elektronik dan non-elektronik
2.    Media audio, visual dan audio visual
Audio yaitu yang dapat mengeluarkan suara atau didengar. Visual yaitu yang dapat dilihat, diraba. Audio visual yaitu film, kaset video.
3.    Media cetak dan non cetak

      Media komunikasi penyajian lisan dapat dikemukakan macam-macam media yaitu :
1.    Media model
2.    Media gambar
3.    Media grafis, seperti peta, table dll
4.    Media audio, seperti kaset, radio dll
5.    Media proyeksi diam, seperti OHT atau Bingkai. Dalam penggunaan film bingkai, biasanya ruangan digelapkan atau minimal diredupkan supaya gambar atau tulisan tampak jelas. Alat ini mudah disimpan dan bila diperlukan dapat digunakan kembali. Penayangan alat ini membutuhkan sebuah proyektor film bingkai.
6.    Media proyeksi bergerak, seperti televise
7.    Media permainan dan simulasi
E.   Indikasi dan Cara Pemakaian Alat-Alat Bantu Dengar-Pandang
                 Sebelum kita menentukan alat bantu yang akan dipakai, hal-hal berikut ini perlu dipertimbangkan. Tujuan yang ingin dicapai dengan penyajian, serta tingkat pengetahuan pendengar sebaiknya diketahui terlebih dahulu.
F.  Persiapan Penyajian
Betapapun baiknya alat bantu dengar-pandang yang kita pakai, penyajian akan tetap sia-sia tanpa adanya persiapan matang dari penyaji. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dibutuhkan persiapan seoptimal mungkin. Persiapan ini meliputi :

1.    Persiapan Diri
Berdiri di depan forum perlu suatu keyakinan atau rasa percaya diri (self confidence). Keyakinan semacam ini akan makin menebal bila si penyaji betul-betul menguasai bahan-bahan yang akan disajikan. Untuk mencapai ini jelas perlu persiapan diri yang betul-betul matang. Paling tidak kita sudah harus menguasai pokok-pokok bahasan yang akan dikemukakan.
2.    Keterampilan
Seorang pembicara yang efektif hendaknya mampu berkonsentrasi dan bertukar pandang dengan lawan bicaranya
3.    Teknik
Ada empat unsur teknik yang penting dalam mengembangkan keterampilan berbicara di depan public, yaitu :
a.    Posisi tubuh, Postur seorang pembicara mampu mengisyaratkan pesan-pesan tertentu.
b.    Bahasa atau gerak gerik tubuh,  pembicara yang berpengalaman akan memamfaatkan gerak gerik tubuh dengan wajah yang ekspresif.
c.    Kontak mata, kontak mata langsung antara pembicara dan hadirin merupakan bagian penting untuk interaksi antar pribadi. Ada dua mamfaat yang dirasakan dari tatapan mata antara pembicara dengan hadirin ini. Pertama, kontak mata dapat membangkitkan minat hadirin. Kedua, kontak mata terpelihara akan memancarkan energi. Ia mampu menghidupkan kata-kata, karena hal ini menimbulkan kesan sebagaimana layaknya orang yang sedang bercakap-cakap.
d.    Suara, untuk mempertahankan perhatian dan konsentrasi hadirin, ada empat variable yang berkaitan dengan suara :
1)    Kecepatan (pace) penyajian. Kadang-kadang kita perlu cepat, namun ada kalanya lambat.
2)    Pola nada (pitch). Mulailah dengan suara yang dalam, di antara tinggi dan rendah.
3)    Kekuatan (power) suara hendaknya diubah-ubah. Untuk bagian penting, turunkanlah kekuatan suara, karena penurunan ini ternyata lebih berpengaruh daripada peningkatan suara.
4)    Istirahat (pause). Beri kesempatan kepada hadirin untuk beristirahat di antara kalimat-kalimat yang di ucapkan, supaya mereka mampu mencernakan apa yang baru dilihat dan didengarnya.
4.    Kesan pertama
5.    Rasa percaya diri
Pada saat berdiri di  mimbar pembicara tunjukkanlah rasa percaya diri. Kata-kata pembukaan seorang penyaji harus memperlihatkan penampilan serta memperdengarkan suaracyang membuktikan bahwa ia penuh rasa percaya diri.
6.    Rasa Gugup
Pembicara yang belum berpengalaman sering kali dihantui perasaan gugup dan cemas pada saat saat sebelum mulai berbicara. Memang ada beberapa orang yang baru bisa tampil sebaik-baiknya bila mereka santai. Disarankan untuk mengambil langkah-langkah yang biasa dipakai untuk mencapai keadaan santai. Seperti tarik nafas dalam-dalam dan kendurkanoto-oto dari mulai bahu terus ke lengan sampai ujung jari.
G. Pelaksanaan Penyajian
      Kini tibalah kita pada saat penyajian yang sudah dijadwalkan. Sebaiknya hadirlah 5-10 menit lebih awal di ruang siding. Hal ini perlu agar kita mendapat gambaran menyeluruh tentang suasana penyajian yang akan berlangsung di dalam ruangan itu. Periksalah apakah alat bantu yang kita pakai sudah terpasang dengan baik, demikian oula apakah alat penunjuk (pointer) sudah tersedia (biasanya alat ini disediakan panitia). Pada masa kini sudah lazim digunakan penunjuk laser (laser pointer).
H. Cara pendekatan penyampaian
1.    Cara spontan
Metode ini digunakan oleh pembicara yang percaya bahwa ia pasti padam dengan pendengarannya. Sesuai dengan suasana hati merek ketika ia mulai dan ketika pembicaraan berkembang, dan karena itu ia tidak perlu melakukan persiapan sebelumnya.
2.    Dengan persiapan
I.  Struktur pembicaraan
        Dalam teknik penyampaian pesan secara lisan ini ada empat hal yang perlu diperhatikan  yaitu :
1.    Momen-momen penting dalam pembicaraan
Ada pola yang boleh dibilang konsisten yang menyangkut konsentrasi pendengar yaitu bahwa perhatian berada pada titik tertinggi untuk periode yang sangat singkat, mungkin tidak lebih daripada beberapa kalimat dan ini terjadi pada saat pembukaan.
2.    Bagian-bagian penghubung
Sekali lagi hendaknya selalu diingat, bahwa selama bagian utama pembicaraan justru konsentrasi pendengar lebih rendah daripada bagian awal dan akhir. Namun, pembicara yang sukses dan menyadari hal ini akan terus menerus berupaya menyegarkan kembali perhatian dan konsentrasi pendengranya.
3.    Penggunaan humor
Sebagian ahli menganjurkan humor pada awal pembicaraan sebagai suatu prosedur rutin. Hal ini akan membuat pendengar lebih santai dan hasil pembicaraan lebih dapat diterima.
4.    Selesai tepat waktu
Pembicara yang baik, begitu pula pendengranya sangat ,enghargai dan sadar akan pentingnya waktu. Ia berusaha memenuhi harapan tentang waktu yang digunakannya untuk berbicara sekaligus menghargai waktu orang-orang yang sudah mau duduk menjadi pendengarnya. Hadirin biasanya tidak terlalu perduli, bila seorang pembicaraselesai hanya beberapa saat lebih cepat atau lebih lambat daripada waktu yang ditetapkan sebelumnya. Namun akan menjadi sangat mengecewakan bahkan mungkin menjengkelkan mereka bila yang terjadi dalah hal sebaliknya. Itulah sebabnya sangat dianjurkan untuk melakukan tindakan pengendalian waktu sebelum penyajian berlangsung, supaya penyajian selesai tepat waktu.

J.   Acara diskusi
       Sudah dimaklumi bahwa hampir setiap ceramah biasanya diikuti dengan acara diskusi. Acara diskusi yang menarik dan intensif sebetulnya merupakan suatu bentuk penghargaan bagi setiap pembicara. Secar prinsip bahwa diskusi adalah suatu komunikasi timbale balik secara langsung antara dua orang atau lebih untuk memperdalam pemahaman suatu masalah, agar sedapat mungkin dicapai kesepahaman.
K.   Evaluasi Pasca Penyajian
       Setelah fase penyajian, bahkan sebelum kita sempat kembali ke tempat duduk, mungkin kita sudah segera melakukan evaluasi tentang penyajian kita. Bisa saja terjadi, bahwa kita merasa ada bagian yang terlupakandari sekian banyak bahan yang seharusnya tadi dikemukakan. Catatlah saja apa yang kita rasakan sebagai kekurangan dan kelebihan. Dengan cara ini kita tidak akan mengulangi kesalahan serupa pada waktu-waktu yang akan datang.







DAFTAR PUSTAKA
·         Lucas, S. E. 1992. The Art of Publik Speaking, Ed. 5. McGraw-Hill. Inc
·         Mears A. G. 1989. The Right Way to Speak in Public, Ed. 8. Cox Wymen Ltd. KIngswood Surrey Great Britain.