Selasa, 09 November 2010

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


Pertumbuhan fisik dan Perkembangan Intelek
A.  Pertumbuhan fisik
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan ini meliputi : perubahan ukuran, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri kelamini yang utama (primer) dan cirri kelamin kedua (sekunder). Menurut Muss yang dikutip oleh Sarlito Wirawan (Sarlito, 1991:51) urutan perubahan fisik adalah :
Pada anak perempuan
1.      Pertumbuhan tulang menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang.
2.      Pertumbuhan payudara.
3.      Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan.
4.      Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap tahunnya.
5.      Bulu kemaluan menjadi keriting.
6.      Menstruasi atau haid.
7.      Tumbuh bulu-bulu ketiak
Pada anak laki-laki
1.      Pertumbuhan tulang-tulang.
2.      Testis membesar.
3.      Tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus dan berwarna gelap.
4.      Awal perubahan suara.
5.      Ejakulasi.
6.      Bulu kemaluan menjadi keriting.
7.      Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya.
8.      Tumbuh rambut-rambut halus di wajah.
9.      Tumbuh bulu ketiak.
10.  Akhir perubahan suara.
11.  Rambut-rambut wajah bertambah tebal dan gelap.
12.  Tumbuh bulu di dada.

a)      Penyebab Perubahan
Penyebab perubahan pada masa remaja adalah dua kelenjar yang menjadi aktif bekerja dalam sistem endokrin. Kelenjar pituitary yang terletak di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon yang di duga erat ada hubungannya dengan perubahan pada masa remaja. Kedua hormon itu adalah hormone pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh.  Adapun perubahan-perubahan fisik yang penting dan terjadi pada masa remaja ialah :
1.      Pertumbuhan ukuran tubuh.
2.      Perubahan proporsi tubuh.
3.      Ciri kelamin yang utama.
4.      Ciri kelamin kedua.
Perubahan fisik sepanjang masa remaja meliputi tiga hal, yaitu :
(i)                 Percepatan pertumbuhan
Masa dan proses pertumbuhan tidak sama bagi semua remaja. Banyak factor individual mempengaruhi jalannya pertumbuhan ini. Sehingga baik awal maupun akhir prosesnya terjadi secara berbeda. Perbedaan individual tentang pertumbuhan tampak dalam perbedaan awal percepatan dan cepatnya pertumbuhan.
a.       Bagi remaja laki-laki permulaan percepatan pertumbuhan berkisar antara 10,5 tahun dan 16 tahun.
b.      Bagi remaja perempuan permulaan percepatan pertumbuhan berkisar antara 7.5 tahun dan 11,5 tahun.
(ii)               Proses kematangan seksual.
Ada tiga kriteria yang membedakan anak laki-laki daripada anak perempuan, yaitu hal :
(1)   Kriteria kematangan seksual
Kriteria kematangan seksual tampak lebih jelas pada anak perempuan daripada anak laki-laki. Menarche atau menstruasi pertama sebagai tanda permulaan pubertas. Menarche merupakan ukuran yang baik karena hal itu menentukan salah satu ciri kematangan seksual yang pokok yaitu disposisi untuk konsepsi (kehamilan) dan melahirkan. Disamping itu menarche juga merupakan manifestasi yang jelas meskipun pada permulaannya terjadi pendarahan yang sedikit. Kriteria laki-laki dengan ejakulasi.
(2)   Permulaan kematangan seksual, dan
Permulaan kematangan seksual pada anak perempuan pada umur 10 sampai 16,5 tahun. Pada anak laki-laki kurang lebih umur 14 tahun. Namun ejakulasi pertama mendahului puncak percepatan perkembangan, tetapi dala air mani baru terdapat sedikit sperma.
(3)   Urutan gejala-gejala kematangan.
Pada anak perempuan kematangan dimulai dengan suatu tanda kelamin sekunder dengan tumbuhnya buah dada. Pada anak laki-laki kematangan dimulai dengan pertumbuhan testis  dimulai pada umur 9,5 dan 13,5 tahun dan di akhiri antara 13,5 dan 17 tahun dan jakun pada usia 15-16 tahun.
(iii)             Keanekaragaman Perubahan Proporsi Tubuh
Remaja laki-laki cenderung menuju bentuk tubuh mesomorf (cenderung menjadi anak yang kekar, beratm dan segitiga). Sedangkan anak perempuan kalau tidak endomorph (cenderung menjadi gemuk dan berat) akan memperlihatkan ciri ektomorf (cenderung kurus dan bertulang panjang).
Kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi pertumbuhan fisik anak antara lain yaitu :
1.      Pengaruh Keluarga, meliputi factor keturunan maupun factor lingkungan.
2.      Pengaruh Gizi, gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf remaja dibandingkan dengan mereka yang kurang memperoleh gizi.
3.      Gangguan Emosional, anak-anak terlalu sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan.
4.      Jenis Kelamin, anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada nak perempuan.
5.      Status Sosial Ekonomi, anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status social ekonomi rendah, cenderung lebih kecil daropada anak yang berasal dari keluarga yang status social ekonominya tinggi.
6.      Kesehatan, anak-anak yang sehat dan jarang sakit, biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat daripada anak yang sering sakit.
b)    Perkembangan Intelek
1.      Pengertian intelek dan intelegensi
Menurut Singgih Gunarsa dalam bukunya Psikologi Remaja (1991), intelegensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul. Intelegensi adalah suatu bentuk tingkah laku tertentu yang tampil dalam kelancaran tingkah laku.
Pengukuran tingkat intelegensi dalam bentuk perbandingan ini di ajukan oleh William Stern (1871-1938), seorang ahli jiwa berkebangsaan Jerman, dengan sebutan Intelligence Quetient yang disingkat IQ artinya perbandingan kecerdasan. Rumus perhitungan yang di ajukan adalah :
IQ = MA X 100
         CA
Ket : MA : umur kecerdasan
         CA : umur kalender
2.      Hubungan antara Intelek dan Tingkah Laku
Kemampuan abstraksi mempermasalahkan kenyataan dan peristiwa dengan keadaan bagaimana alam pikirannya. Situasi ini akhirnya dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa. Di samping itu pengaruh egosentris masih terlihat pada pikirannya.
3.      Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja
Intelegensi pada masa remaja tidak mudah di ukur, karena tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut. Pada awal masa remaja, kira-kira pada umur 12 tahun anak berada pada masa yang disebut “masa operasi formal” (berpikir abstrak). Pada masa ini remaja telah berpikir dengan mempertimbangkan hal yang mungkin di samoing hal yag nyata/real (Gleitman, 1986:475-476). Pada usia remaja ini anak sudah dapat berpikir abstrak dan hipotek. Dalam berpikir operasional formal mempunyai 2 sifat penting yaitu :
a.       Sifat Deduktif Hipotesis
Dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik.
b.      Berpikir Operasional juga Berpikir Kombinatoris
Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana melakukan analisis. Misalnya anak diberi lima buah gelas berisi cairan tertentu. Suatu kombinasi cairan ini membuat cairan tadi berubah warna. Anak diminta untuk mencari kombinasi ini.
4.      Factor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
Pandangan pertama yang mengakui bahwa intelegensi itu adalah bakat dinamakan aliran Nativisme, sedangkan pandangan kedua dipengaruhi lingkungan dinamakan aliran Empirisme.
Menurut Andi Mappiare (1982:80) hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain :
1)      Bertambahnya informasi yang disimpan seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif.
2)      Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.
3)      Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis.
Tiga kondisi di atas sesuai dengan dasar-dasar teori Piaget mengenai perkembangan intelegensi yakni :
1)      Fungsi intelegensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis.
2)      Bertambahnya usia menyebabkan berkembangnya struktur intelegensi baru, sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif.
a.       Peranan pengalaman dari sekolah terhadap intelegensi.
b.      Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan intelegensi.
5.      Perkembangan Individu dalam Kemampuan dan Perkembangan Intelek
Seperti diketahui, manusia itu berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, juga tentang intelegensinya. Intelegensi itu sendiri oleh David Wechler (1958) didefinisikan sebagai “keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengelola dan menguasai lingkungan secara efektif”.
6.      Usaha-Usaha salam Membantu Mengembangkan Intelek Remaja dalam Proses Pembelajaran.
Menurut Piaget sebagian besar anak usia remaja mampu memahami konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Menurut Brunner, siswa pada usia ini belajar menggunakan bentuk-bentuk simbol dengan cara yang makin tinggi. Guru dapat membantu mereka melakukan hal ini dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses (discovery approach) dan dengan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep dan abstraksi-abstraksi.























DAFTAR PUSTAKA
Sunarto dan hartono, Agung. Perkembangan Peserta didik (Pertumbuhan Dan Perkembangan remaja). Jakarta : Rineka Cipta, 1995

strategi pembelajaran kelompok 3


MAKALAH KELOMPOK
STRATEGI PEMBELAJARAN
SISTEM PEMBELAJARAN DALAM
STANDAR PROSES PENDIDIKAN

                                                   




Di Susun Oleh :
M. Ali Syahbana            09 22 255

Kelas C. 3. II
Dosen Pembingbing :
Nora Agustina M. Pd


UNIVERSITAS BATURAJA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
 NOVEMBER 2010

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tanpa hambatan. Makalah ini akan membahas tentang Sistem Pembelajaran dalam Standar Proses Pendidikan. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak yang senantiasa memberi dukungan kritik dan saran sehingga terselesaikannya makalah ini. Makalah ini kami susun berdasarkan ilmu-ilmu serta konsep yang kami dapatkan dari bahan yang berhubungan dengan materi Sistem Pembelajaran dalam Standar Proses Pendidikan.
Semoga makalah ini bermamfaat bagi penulis dan pembaca setelah memahami dan mengerti isi dari pembahasan makalah ini, tetapi di  dalam penulisan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami  mengharapkan adanya kritikan serta saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
















DAFTAR ISI

Halaman……………………………………..…….…………………………………………i
Kata Pengantar…………………………...…………………………………………………..ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………………......iii
  1. Pendahuluan
    1. Latar belakang…………………………………………..…………………....1
    2. Tujuan ………………………………….…………………………………....1
    3. Rumusan Masalah …………………………………………………………...1
  1. Pembahasan
    1. Pengertian dan kegunaan sistem…..……………………………………........2
    2. Factor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran......………....3
    3. Komponen-komponen system pembelajaran..............………………...….....4
  1. Penutup
    1. Kesimpulan……………………………………………….……………….....7
    2. Saran…………………………………………………………........................7
  2. Daftar Pustaka














BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penyusunan standar proses pendidikan dapat menentukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagai upaya ketercapaian standar kompetensi lulusan. Dengan demikian, standar proses dapat dijadikan pedoman oleh setiap guru dalam pengelolaan proses pembelajaran serta menentukan komponen-komponen yang dapat mempengaruhi proses pendidikan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas proses pendidikan adalah pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem ini kita dapat melihat berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu proses.

B.     Tujuan
Dengan adanya pembahasan materi ini makalah ini bertujuan agar mahasiswa/mahasiswi sekalian dan para pembaca dapat mengerti dan memahami lebih dalam lagi tentang bagaimana cara menentukan kualitas proses pendidikan melalui pendekatan sistem. Semoga kita juga mampu mengerti, memahami dan menerapkan sistem pembelajaran tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

C.     Rumusan Masalah
Ø  Pengertian sistem
Ø  Kegunaan sistem
Ø  Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran
Ø  Komponen-komponen sistem pembelajaran






BAB II
PEMBAHASAN
            Sistem Pembelajaran dalam Standar Proses Pendidikan

A.    Pengertian dan Kegunaan Sistem
            Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka ada tiga hal penting yang menjadi karakteristik suatu sistem. Pertama, setiap sistem mempunyai tujuan. Tujuan merupakan ciri utama suatu sistem. Tujuan merupakan arah yang harus dicapai oleh suatu pergerakan sistem. Kedua, sistem selalu mengandung suatu proses. Proses adalah rangakaian kegiatan. Ketiga, proses kegiatan dalam suatu sistem selalu melibatkan dan memanfaatkan berbagai komponen atau unsur-unsur tertentu. Oleh karena itu, suatu sistem tidak mungkin hanya memiliki satu komponen saja. Sistem memerlukan dukungan berbagai komponen yang satu sama lain saling berkaitan.
            Sistem erat kaitannya dengan perencanaan. Perencanaan adalah pengambilan keputusan bagaimana memberdayakan komponen agar tujuan berhasil dengan sempurna. Contohnya, manusia merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen seperti komponen mata untuk melaksanakan fungsi penglihatan, komponen telinga untuk melaksanakan fungsi pendengaran dan lain sebagainya. Manakala salah satu atau sebagian besar komponen tidak berfungsi maka akan merusak sistem secara keseluruhan.
Sistem berfungsi untuk merancang suatu proses pembelajaran. Perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan (Ely, 1979). Oleh karena itulah proses perencanaan yang sistematis dalam proses pembelajaran mempunyai beberapa keuntungan di antaranya :
1.      Melalui sistem yang matang, guru akan terhindar dari kesalahan mengajar.
2.      Melalui sistem perencanaan yang sistematis, guru dapat menentukan berbagai strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
3.      Melalui sistem perencanaan, guru dapat menentukan berbagai langkah dalam memamfaatkan berbagai sumber dan fasilitas yang ada untuk ketercapaian tujuan.
B.     Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Sistem Pembelajaran
            Terdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi kegiatan proses sistem pembelajaran, diantaranya :
1.      Faktor Guru
      Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Menurut Dunkin (1974) ada sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru yaitu :
a.       Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang social mereka.
b.      Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengamalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru.
c.       Teacher properties adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru.
Selain latar guru seperti di atas, pandangan guru terhadap mata pelajaran yang diajarkan juga dapat pula mempengaruhi proses pembelajaran.
2.      Faktor siswa
      Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama
Seperti halnya guru, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa meliputi aspek latar belakang siswa yang menurut Dunkin yaitu :
a.       Pupil formative experience, aspek ini meliputi aspek latar belakang meliputi jenis kelamin siswa, tempat kelahiran, tempat tinggal siswa, tingkat social ekonomi siswa, dari keluarga yang bagaimana siswa berasal, dan lain-lain.
b.      Pupil properties, dilihat dari sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan dasar, pengetahuan dan sikap.
3.      Faktor sarana dan prasarana
      Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu factor organisasi kelas dan faktor iklim sosial-psikologis. Faktor organisasi kelas yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dala satu kelas bercenderungan :
a.       Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit.
b.      Kelompok belajar akan kurang mampu memamfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya, dalam penggunaan waktu diskusi.
c.       Kepuasan belajar setiap siswa akan cenderung menurun.
d.      Perbedaan individu antara anggota akan semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan.
e.       Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
f.       Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cenderung semakin banyak siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.
Faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran adalah faktor iklim sosial-psikologis. Maksudnya, keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal atau eksternal.
Iklim social-psikologis secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan guru, bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah. Iklim sosial-psikologis eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.
C.     Komponen-komponen Sistem Pembelajaran
            Belajar adalah proses perubahan tingkah laku. Namun demikian, kita akan sulit melihat bagaimana proses terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri seseorang. Sebenarnya kita bisa menentukan apakah seseorang telah belajar atau belum, yaitu dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. Coba kita simak bagan dibawah ini.
Input
S
S’
Proses
Output
 


            Dari bagan di atas, maka dapat kita lihat, bahwa telah terjadi proses belajar pada diri seseorang (S) manakala terjadi perubahan dari S sebagai input S’ sebagai output. Misalnya sebelum seseorang mengalami proses belajar, ia tidak tahu konsep tentang “X”, tapi setelah ia mengalami proses pembelajaran, ia jadi paham tentang konsep “X”, dengan demikian dapat dikatakan seseorang itu telah belajar. Sebainya, manakala sebelum mengalami proses pembelajaran ia tidak tahu tentang “X”, dan setelah ia mengalami proses pembelajaran masih tetap tidak tahu tentang “X”, maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya ia tidak belajar atau proses pembelajaran dianggap gagal.
            Sebagai suatu sistem kita perlu menganalisis berbagai komponen yang membentuk system proses pembelajaran. Untuk itu coba kita lihat bagan dibawah ini.
S’
Proses
S
Output
Input
Tujuan
Isi/materi
Metode
Evaluasi
Media
 












           
            Dari bagan tersebut dapat dilihat bahwa sebagai suatu system, proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lain saling berinteraksi. Komponen-komponen tersebut adalah tujuan, materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media dan evaluasi.
            Tujuan merupakan komponen yang penting dalam sistem pembelajaran. Isi atau materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam system pembelajaran dan inti dalam proses pembelajaran. Strategi atau metode adalah komponen yang juga mempunyai fungsi yang sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini. Alat dan sumber, walaupun fungsinya sebagai alat bantu, akan tetapi memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Dan evaluasi merupakan komponen terakhir dalam sistem proses pembelajaran. Evaluasi bukan saja berfungsi untuk melihat keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai umpan balik bagi guru atas kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran. Melalui evaluasi kita dapat melihat kekurangan dalam pemamfaatan berbagai komponen system pembelajaran.
























BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan

Melalui pembahasan di atas dapat diperoleh pemahaman bahwa Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.  Ada tiga hal penting yang menjadi karakteristik suatu sistem. Pertama, setiap sistem mempunyai tujuan. Tujuan merupakan ciri utama suatu sistem. Kedua, sistem selalu mengandung suatu proses. Proses adalah rangakaian kegiatan. Ketiga, proses kegiatan dalam suatu sistem selalu melibatkan dan memanfaatkan berbagai komponen atau unsur-unsur tertentu.
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan proses sistem pembelajaran, diantaranya faktor Guru, faktor siswa, faktor sarana dan prasarana.
B.   Saran

Semoga dengan adanya penjelasan dari makalah ini, penyusun maupun pembaca memahami tentang sistem pembelajaran dalam standar proses pendidikan kita. Serta bisa menjadi acuan untuk sitem pembelajaran yang akan kita lakukan pada pembelajaran yang sebenarnya.









DAFTAR PUSTAKA
ü  Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi, standar proses pendidikan. Jakarta.