Jumat, 25 Februari 2011

strategi belajar kel 3 semester 3

MAKALAH KELOMPOK
STRATEGI PEMBELAJARAN
SISTEM PEMBELAJARAN DALAM
STANDAR PROSES PENDIDIKAN

                                                   




Di Susun Oleh :
M. Ali Syahbana            09 22 255

Kelas C. 3. II
Dosen Pembingbing :
Nora Agustina M. Pd


UNIVERSITAS BATURAJA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
 NOVEMBER 2010



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tanpa hambatan. Makalah ini akan membahas tentang Sistem Pembelajaran dalam Standar Proses Pendidikan. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak yang senantiasa memberi dukungan kritik dan saran sehingga terselesaikannya makalah ini. Makalah ini kami susun berdasarkan ilmu-ilmu serta konsep yang kami dapatkan dari bahan yang berhubungan dengan materi Sistem Pembelajaran dalam Standar Proses Pendidikan.
Semoga makalah ini bermamfaat bagi penulis dan pembaca setelah memahami dan mengerti isi dari pembahasan makalah ini, tetapi di  dalam penulisan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami  mengharapkan adanya kritikan serta saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
















DAFTAR ISI

Halaman……………………………………..…….…………………………………………i
Kata Pengantar…………………………...…………………………………………………..ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………………......iii
  1. Pendahuluan
    1. Latar belakang…………………………………………..…………………....1
    2. Tujuan ………………………………….…………………………………....1
    3. Rumusan Masalah …………………………………………………………...1
  1. Pembahasan
    1. Pengertian dan kegunaan sistem…..……………………………………........2
    2. Factor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran......………....3
    3. Komponen-komponen system pembelajaran..............………………...….....4
  1. Penutup
    1. Kesimpulan……………………………………………….……………….....7
    2. Saran…………………………………………………………........................7
  2. Daftar Pustaka














BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penyusunan standar proses pendidikan dapat menentukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagai upaya ketercapaian standar kompetensi lulusan. Dengan demikian, standar proses dapat dijadikan pedoman oleh setiap guru dalam pengelolaan proses pembelajaran serta menentukan komponen-komponen yang dapat mempengaruhi proses pendidikan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas proses pendidikan adalah pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem ini kita dapat melihat berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu proses.

B.     Tujuan
Dengan adanya pembahasan materi ini makalah ini bertujuan agar mahasiswa/mahasiswi sekalian dan para pembaca dapat mengerti dan memahami lebih dalam lagi tentang bagaimana cara menentukan kualitas proses pendidikan melalui pendekatan sistem. Semoga kita juga mampu mengerti, memahami dan menerapkan sistem pembelajaran tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

C.     Rumusan Masalah
Ø  Pengertian sistem
Ø  Kegunaan sistem
Ø  Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran
Ø  Komponen-komponen sistem pembelajaran






BAB II
PEMBAHASAN
            Sistem Pembelajaran dalam Standar Proses Pendidikan

A.    Pengertian dan Kegunaan Sistem
            Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka ada tiga hal penting yang menjadi karakteristik suatu sistem. Pertama, setiap sistem mempunyai tujuan. Tujuan merupakan ciri utama suatu sistem. Tujuan merupakan arah yang harus dicapai oleh suatu pergerakan sistem. Kedua, sistem selalu mengandung suatu proses. Proses adalah rangakaian kegiatan. Ketiga, proses kegiatan dalam suatu sistem selalu melibatkan dan memanfaatkan berbagai komponen atau unsur-unsur tertentu. Oleh karena itu, suatu sistem tidak mungkin hanya memiliki satu komponen saja. Sistem memerlukan dukungan berbagai komponen yang satu sama lain saling berkaitan.
            Sistem erat kaitannya dengan perencanaan. Perencanaan adalah pengambilan keputusan bagaimana memberdayakan komponen agar tujuan berhasil dengan sempurna. Contohnya, manusia merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen seperti komponen mata untuk melaksanakan fungsi penglihatan, komponen telinga untuk melaksanakan fungsi pendengaran dan lain sebagainya. Manakala salah satu atau sebagian besar komponen tidak berfungsi maka akan merusak sistem secara keseluruhan.
Sistem berfungsi untuk merancang suatu proses pembelajaran. Perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan (Ely, 1979). Oleh karena itulah proses perencanaan yang sistematis dalam proses pembelajaran mempunyai beberapa keuntungan di antaranya :
1.      Melalui sistem yang matang, guru akan terhindar dari kesalahan mengajar.
2.      Melalui sistem perencanaan yang sistematis, guru dapat menentukan berbagai strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
3.      Melalui sistem perencanaan, guru dapat menentukan berbagai langkah dalam memamfaatkan berbagai sumber dan fasilitas yang ada untuk ketercapaian tujuan.
B.     Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Sistem Pembelajaran
            Terdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi kegiatan proses sistem pembelajaran, diantaranya :
1.      Faktor Guru
      Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Menurut Dunkin (1974) ada sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru yaitu :
a.       Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang social mereka.
b.      Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengamalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru.
c.       Teacher properties adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru.
Selain latar guru seperti di atas, pandangan guru terhadap mata pelajaran yang diajarkan juga dapat pula mempengaruhi proses pembelajaran.
2.      Faktor siswa
      Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama
Seperti halnya guru, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa meliputi aspek latar belakang siswa yang menurut Dunkin yaitu :
a.       Pupil formative experience, aspek ini meliputi aspek latar belakang meliputi jenis kelamin siswa, tempat kelahiran, tempat tinggal siswa, tingkat social ekonomi siswa, dari keluarga yang bagaimana siswa berasal, dan lain-lain.
b.      Pupil properties, dilihat dari sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan dasar, pengetahuan dan sikap.
3.      Faktor sarana dan prasarana
      Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu factor organisasi kelas dan faktor iklim sosial-psikologis. Faktor organisasi kelas yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dala satu kelas bercenderungan :
a.       Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit.
b.      Kelompok belajar akan kurang mampu memamfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya, dalam penggunaan waktu diskusi.
c.       Kepuasan belajar setiap siswa akan cenderung menurun.
d.      Perbedaan individu antara anggota akan semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan.
e.       Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
f.       Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cenderung semakin banyak siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.
Faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran adalah faktor iklim sosial-psikologis. Maksudnya, keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal atau eksternal.
Iklim social-psikologis secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan guru, bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah. Iklim sosial-psikologis eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.
C.     Komponen-komponen Sistem Pembelajaran
            Belajar adalah proses perubahan tingkah laku. Namun demikian, kita akan sulit melihat bagaimana proses terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri seseorang. Sebenarnya kita bisa menentukan apakah seseorang telah belajar atau belum, yaitu dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. Coba kita simak bagan dibawah ini.
Input
S
S’
Proses
Output
 


            Dari bagan di atas, maka dapat kita lihat, bahwa telah terjadi proses belajar pada diri seseorang (S) manakala terjadi perubahan dari S sebagai input S’ sebagai output. Misalnya sebelum seseorang mengalami proses belajar, ia tidak tahu konsep tentang “X”, tapi setelah ia mengalami proses pembelajaran, ia jadi paham tentang konsep “X”, dengan demikian dapat dikatakan seseorang itu telah belajar. Sebainya, manakala sebelum mengalami proses pembelajaran ia tidak tahu tentang “X”, dan setelah ia mengalami proses pembelajaran masih tetap tidak tahu tentang “X”, maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya ia tidak belajar atau proses pembelajaran dianggap gagal.
            Sebagai suatu sistem kita perlu menganalisis berbagai komponen yang membentuk system proses pembelajaran. Untuk itu coba kita lihat bagan dibawah ini.
S’
Proses
S
Output
Input
Tujuan
Isi/materi
Metode
Evaluasi
Media
 












           
            Dari bagan tersebut dapat dilihat bahwa sebagai suatu system, proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lain saling berinteraksi. Komponen-komponen tersebut adalah tujuan, materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media dan evaluasi.
            Tujuan merupakan komponen yang penting dalam sistem pembelajaran. Isi atau materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam system pembelajaran dan inti dalam proses pembelajaran. Strategi atau metode adalah komponen yang juga mempunyai fungsi yang sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini. Alat dan sumber, walaupun fungsinya sebagai alat bantu, akan tetapi memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Dan evaluasi merupakan komponen terakhir dalam sistem proses pembelajaran. Evaluasi bukan saja berfungsi untuk melihat keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai umpan balik bagi guru atas kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran. Melalui evaluasi kita dapat melihat kekurangan dalam pemamfaatan berbagai komponen system pembelajaran.
























BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan

Melalui pembahasan di atas dapat diperoleh pemahaman bahwa Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.  Ada tiga hal penting yang menjadi karakteristik suatu sistem. Pertama, setiap sistem mempunyai tujuan. Tujuan merupakan ciri utama suatu sistem. Kedua, sistem selalu mengandung suatu proses. Proses adalah rangakaian kegiatan. Ketiga, proses kegiatan dalam suatu sistem selalu melibatkan dan memanfaatkan berbagai komponen atau unsur-unsur tertentu.
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan proses sistem pembelajaran, diantaranya faktor Guru, faktor siswa, faktor sarana dan prasarana.
B.   Saran

Semoga dengan adanya penjelasan dari makalah ini, penyusun maupun pembaca memahami tentang sistem pembelajaran dalam standar proses pendidikan kita. Serta bisa menjadi acuan untuk sitem pembelajaran yang akan kita lakukan pada pembelajaran yang sebenarnya.









DAFTAR PUSTAKA
ü  Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi, standar proses pendidikan. Jakarta.



strategi belajar kel 11 semester 3

MAKALAH KELOMPOK
STRATEGI PEMBELAJARAN
STANDAR PROSES PENDIDIKAN

                                                   




Di Susun Oleh :
M. Ali syahbana            09 22 356

Kelas C. 3. II
Dosen Pembingbing :
Nora Agustina M. Pd


UNIVERSITAS BATURAJA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
7 NOVEMBER 2010


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tanpa hambatan. Makalah ini akan membahas tentang Standar Proses Pendidikan. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak yang senantiasa memberi dukungan kritik dan saran sehingga terselesaikannya makalah ini. Makalah ini kami susun berdasarkan ilmu-ilmu serta konsep yang kami dapatkan dari bahan yang berhubungan dengan materi Standar Proses Pendidikan.
Semoga makalah ini bermamfaat bagi penulis dan pembaca setelah memahami dan mengerti isi dari pembahasan makalah ini, tetapi di  dalam penulisan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami  mengharapkan adanya kritikan serta saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.












DAFTAR ISI

Halaman……………………………………..………….…………………………………………i
Kata Pengantar…………………………...……………………………………………………….ii
Daftar Isi……………………………………………………………………………………….....iii
  1. Pendahuluan
    1. Latar belakang…………………………………………..………………………..1
    2. Tujuan ………………………………….………………………………………...1
    3. Rumusan Masalah ………………………………………………………………..1
  1. Pembahasan
    1. Perlunya Standar Proses Pendidikan………………………………………...........2
    2. Pengertian Standar Proses Pendidikan.........……………………………………...3
    3. Fungsi Standar Proses Pendidikan..............……………………………………....4
    4. Keterkaitan Standar Proses Pendidikan dengan Standar Lainnya..........................5
  1. Penutup
    1. Kesimpulan…………………………………………………….……………….....8
    2. Saran………………………………………………………………........................8
  2. Daftar Pustaka








BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia sekarang mulai berkembang pesat untuk maju sedikit demi sedikit bersaing dengan Negara lain. Selain berkembang ada satu hal atau masalah yang sedang dihadapi di dunia pendidikan kita, yaitu masalah lemahnya proses pembelajaran yang mengaitkan tentang standar proses pendidikan.  Proses pembelajaran yang diberikan dari pendidikan terdahulu hingga sekarang masih menjadi kebiasaan bagi kita. Karena proses ini hanya menuntut kemampuan anak untuk menghafal informasi tanpa harus memahami maksud dan tujuan dari informasi tersebut. Serta mengembangkan kemampuan mereka dalam kehidupan nyata.

B.     Tujuan
Dengan adanya pembahasan materi ini makalah ini bertujuan agar mahasiswa/mahasiswi sekalian dan para pembaca dapat mengerti dan memahami lebih dalam lagi tentang masalah yang dihadapi dan cara mengatasi teknik pembelajaran di dalam pendidikan kita khususnya dalam standar proses pendidikan kita. Semoga kita juga mampu mengerti, memahami dan menerapkan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

C.     Rumusan Masalah
Ø  mengapa perlunya standar proses pendidikan
Ø  Defenisi standar proses pendidikan
Ø  Fungsi standar proses pendidikan
Ø  Keterkaitan standar proses pendidikan dengan standar


BAB II
PEMBAHASAN
        Standar Proses Pendidikan

A.    Perlunya Standar Proses Pendidikan
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses ini anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses ini diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami dan dilaksanakan di kehidupan sehari-hari. Contoh mata pelajaran bahasa tidak diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, karena yang dipelajari lebih banyak bahasa sebagai ilmu ilmu bukan sebagai alat komunikasi. Anak juga hafal bagaimana langkah-langkah berpidato, tetapi mereka bingung ketika mereka disuruh bicara dimuka umum. Demikian juga anak hafal bagaimana cara membuat suatu karya tulis, tetpai ketika harus menulis ia bingung harus dari mana memulai dan lain sebagainya.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Terdapat beberapa hal yang sangat penting untuk kita kritisi dari konsep pendidikan menurut uu tersebut. Pertama, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana, hal ini berarti proses pendidika, hal ini berarti proses pendidikan di sekolah bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan, akan tetapi proses yang bertujuan sehingga segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa diarahkan pada pencapaian tujuan.
Kedua, proses pendidikan yang terencana itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, hal ini berarti pendidikan tidak boleh mengesampingkan proses belajar. Ketiga, suasana belajar dan pembelajaran itu diarahkan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya, ini berarti proses pendidikan itu harus berorientasi kepada siswa (student active learning).
Keempat, akhir dari proses pendidikan adalah kemampuan anak memiliki kekuatan spritiual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap, pengembangan kecerdasan, serta pengembangan keterampilan anak sesuai dengan kebutuhan.
B.     Pengertian Standar Proses Pendidikan
Standar proses pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lululsan (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 6). Dari pengertian tersebut, beberapa hal yang perlu digaris bawahi. Pertama, standar proses pendidikan adalah standar nasioanl pendidikan, yang berarti standar proses pendidikan dimaksud berlaku untuk setiap lembaga pendidikan formal pada jenjang pendidikan tertentu dimanapun lembaga pendidikan itu berada secara nasional. Kedua, standar proses pendidikan berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran yang berarti dalam standar proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, standar proses pendidikan dimaksud dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam pengelolaan pembelajaran. Ketiga, standar proses pendidikan diarahkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Dengan demikian, standar kompetensi lulusan merupakan sumber atau rujukan utama dalam menentukan standar proses pendidikan. Karena itu, sebenarnya standar proses pendidikan bisa dirumuskan dan diterapkan manakala tersusun standar kompetensi lulusan.
Lemahnya proses pembelajaran yang dikembangkan guru saat ini seperti yang dijelaskan merupakan salah satu proses masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita. Proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas di laksanakan sesuai dengan kemampuan guru dan selera guru. Padahal pada kenyataannya kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran tidak merata sesuai dengan latar belakang pendidikan guru serta motivasi dan kecintaan mereka terhadap profesinya. Ada guru yang dalam melaksanakan pengelolaan pembelajarannya dilakukan dengan sungguh-sungguh melalui perencanaan yang matang, dengan memamfaatkan seluruh sumber daya yang ada dan memerhatikan taraf perkembangan intelektual dan perkembangan psikologi belajar anak. Guru yang demikian akan dapat menghasilkan kualitas lulusan yang lebih tinggi dibandingkan dengan guru yang dalam pengelolaan pembelajarannya dilakukan seadanya tanpa mempertimbangkan berbagai factor yang bisa mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Dalam rangka inilah standar proses pendidikan dikembangkan. Melalui standar proses pendidikan setiap guru dapat mengembangkan proses pembelajaran sesuia dengan rambu-rambu yang ditentukan.
C.     Fungsi Standar Proses Pendidikan
Secara umum, SPP sebagai standar nasional yang harus dilakukan memiliki fungsi sebagai pengendali proses pendidikan untuk memperoleh kualitas hasil dan proses pembelajaran.
1.      Fungsi SPP dalam Rangka Mencapai Standar Kompetensi yang Harus Dicapai
Proses pendidikan berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, yakni kompetensi yang harus dicapai dalam ikhtiar pendidikan. Bagaimana bagus dan idealnya suatu rumusan kompetensi, pada akhirnya keberhasilan sangat tergantung kepada proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Berkaitan dengan hal itu, SPP berfungsi sebagi alat untuk mencapai tujuan pendidikan serta program yang harus dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
2.      Fungsi SPP bagi Guru
SPP bagi guru berfungsi sebagai pedoman dalam membuat perencanaan program pembelajaran, baik program untuk periode tertentu maupun program pembelajaran harian, dan sebagai pedoman untuk implementasi program dalam kegiatan nyata di lapangan. Oleh sebab itu, guru perlu memahami dan menghayati prinsip-prinsip SPP.
3.      Fungsi SPP bagi Kepala Sekolah
SPP bagi Kepala Sekolah berfungsi :
·         Sebagai barometer atau alat pengukur keberhasilan program pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah dituntut untuk menguasai dan mengontrol apakah kegiatan proses pendidikan yang dilaksanakan berpijak pada standar proses yang telah ditentukan atau tidak.
·         Sebagai sumber utama dalam merumuskan berbagai kebijakan sekolah khususnya dalam menentukan dan mengusahakan ketersediaan berbagai keperluan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang proses pendidikan.
4.      Fungsi SPP bagi Para Pengawas (Supervisor)
Bagi para pengawas, SPP berfungsi sebagai pedoman, patokan, atau ukuran dalam menetapkan bagian mana yang perlu disempurnakan atau diperbaiki oleh setiap guru dalam pengelolaan proses pembelajaran.
5.      Fungsi SPP bagi Dewan Sekolah dan Dewan Pendidikan
Fungsi SPP bagi lembaga ini untuk :
·         Menyusun program dan memberikan bantuan khususnya yang berhubungan dengan penyediaan sarana dan prasarana yang diperlukan oleh seolah atau guru untuk pengelolaan proses pembelajaran yang sesuai dengan standar minimal.
·         Memberikan saran-saran, usul atau ide kepada sekolah, khususnya guru dalam pengelolaan pembelajaran yang sesuai dengan standar nasional.
·         Melaksanakan pengawasan terhadap jalannya proses pembelajaran khususnya yang dilakukan oleh guru.
D.    Keterkaitan Standar Proses Pendidikan dengan Standar Lainnya
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasioanal dikatakan bahwa standar nasional pendidikan adalah criteria minimal tentang system pendidikan di seluruh wilayah hokum NKRI (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 1). Selanjutnya selain SPP ada beberapa standar lain yang ditetapkan dalam standar nasional itu, Yaitu :
Ø  Standar kompetensi lulusan (SKL) menurut PP No. 19 Tahun 2005 Ayat 4 adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL meliputi semua jenjang pendidikan, oleh karena itu ada SKL untuk SMK. SKL merupakan seumber perumusan standar-standar lainnya, sebab apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, akan sangat tergantung kepada lulusan yang bagaimana yang harus dicipatakan.
Ø  Standar Isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 5). SI disusun tentu saja sesuai dengan SKL.
Ø  Standar Proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai SKL (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 6). Melalui SP inilah setiap satuan pendidikan diatur bagaimana seharusnya proses pendidikan ini berlangsung. Dengan demikian, SP dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya.
Ø  Standar pendidik dan tenaga kependidikan (SPTK) adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 7). Selanjutnya, SP akan menentukan kulaifikasi setiap guru sebagai tenaga professional yang dapat menunjang keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan.
Ø  Standar sarana dan prasarana (SSP) adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan TIK (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 8). Standar sarana merupakan standar yang cukup penting karena standar proses pendidikan hanya mungkin dapat dilakukan manakala ada standar sarana yang memadai.
Ø  Standar Pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 9).
Ø  Standar Pembiayaan adalah standar nasional yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 10).
Ø  Standar Penilaian (SP) Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrument penilaian hasil belajar peserta didik (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 11).
       Bagan tersebut menggambarkan : pertama, SPP ditentukan oleh SKL dan SI. Artinya, proses pendidikan yang bagaimana harus dilakukan oleh guru harus sesuai dengan SKL dan SI, baik untuk jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTS, atau SMA/MAN. Kedua, efektifitas dan kelancaran SPP dapat dipengaruhi atau tergantung kepada tenaga pendidik dan kependidikan serta sarana dan prasarana. Oleh sebab itu, disamping SPP perlu juga dirumuskan SPTK serta SSP. Ketiga, efektivitas standar proses selanjutnya akan diukur oleh SP. Dalam SP ditetapkan mekanisme, prosedur, dan instrument penilaian. Keempat, keberhasilan pencapaian standar minimal pendidikan tentu saja sangat tergantung kepada pembiayaan dan pengelolaan yang dilakukan pada setiap jenjang atau satuan pendidikan. Oleh sebab itu, perlu juga ditetapkan standar pengelolaan dan standar pembiayaan.
       Dari uraian diatas, maka tampak SPP merupakan jantungnya dalam system pendidikan. Bagaimana pun bagus dan idealnya SKL serta lengkapnya SI, namun tanpa diimplementasikan ke dalam proses pendidikan, maka semuanya tidak akan berarti apa-apa. Oleh sebab itu, dalam implementasikan SPP guru perlu memahami sekurang-kurangnya tiga hal. Pertama, pemahaman dlam perencanaan program pendidikan, yaitu menyangkut pemahaman dalam menjabarkan isi ke dalam bentuk silabus yang dapat dijadikan dalam pembelajaran. Kedua, pemahaman dlam pengelolaan pembelajaran termasuk dalam disain dan implementasi strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan isi pendidikan. Ketiga, pemahaman tentang evaluasi, baik yang berhubungan dengan evaluasi proses maupun evaluasi hasilpembelajaran.




BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan

Melalui pembahasan di atas dapat diperoleh pemahaman bahwa Standar Proses Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. SPP juga memiliki fungsi sebagai pengendali proses pendidikan untuk memperoleh kualitas hasil dan proses pembelajaran.
Standar Proses Pendidikan juga merupakan jantungnya dalam sistem pendidikan. Bagaimanapun bagus dan idealnya jenis standar lain, namun bila tidak di implementasikan ke dalam proses pendidikan maka semuanya tidak akan berarti apa-apa.
B.   Saran

Semoga dengan adanya penjelasan dari makalah ini, penyusun maupun pembaca mampu dan bisa mengatasi masalah yang sedang di hadapi di dalam dunia pendidikan kita. Serta bisa menjadi acuan untuk teknik pembelajaran yang akan kita berikan kepada peserta didik.










DAFTAR PUSTAKA
ü  Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi, standar proses pendidikan. Jakarta.






Jumat, 10 Desember 2010

pa joko kel 5

 KELOMPOK 5
KOMPUTER GRAFIS
Adobe After Effects

        




Di Susun Oleh :
Reny Susanti            09 22 471
         Yeti Mayasari            09 22 405
Rika Andriani            09 22 368
Dedi Sugiarto            09 22 130
Ahmad Arifin            09 22 353

Kelas C. 3. II
Dosen Pembimbing :
Joko Kuswanto, S.Kom

UNIVERSITAS BATURAJA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
2009 / 2010
Adobe After Effects

Defenisi Adobe After Effects
Adobe After Effects adalah salah satu software compositing yang populer dan telah digunakan secara luas dalam pembuatan video, multimedia, film dan web. After Effects terutama dipakai dalam penambahan efek khusus seperti efek petir, hujan, salju, ledakan bom, dan efek khusus lainnya. After Effects telah membantu para praktisi perfilman Hollywood dalam menghasilkan film-film dengan efek khusus yang spektakuler. Spawn, Titanic, Deep Rising, The Jackal adalah beberapa judul film yang telah memanfaatkan potensi After Effects.

            
        











Adanya kesamaan interface antara After Effects dengan keluarga Adobe yang lain seperti Photoshop memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam pemakaiannya. Integrasi After Effects bersama dengan Photoshop, Illustrator, dan Premiere akan menghasilkan karya yang sebelumnya sulit dibayangkan untuk diwujudkan. Pada versi terbarunya, After Effects 6. berbagai fitur yang lebih memudahkan bagi para profesional dalam menghasilkan efek khusus yang inovatif namun dengan tengat waktu yang terbatas.
Cara kerja After Effects
Cara kerja After Effects dimulai dengan membuat Project. Dan setiap Project dapat berisi file video, animasi, gambar, dan suara. Langkah berikutnya adalah membuat composition. Selanjutnya menambahkan item dari project window ke composition window atau timeline window. Setelah itu barulah membuat animasi dan menambahkan efek khusus di Timeline window. Dan terakhir merender Project menjadi Movie, yang kemudian hasil akhirnya dapat dilihat dengan player seperti QuickTime atau Windows Media Player.















Sekilas cara kerja After Effects: A. Source footage B. Project window C. Composition window D. Timeline window E. QuickTime Player. Untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang cara kerja After Effects, maka berikut akan disajikan langkah-langkah untuk membuat animasi yang sederhana menggunakan After Effetcs.
Langkah pembuatan animasi dasar
Pada latihan ini Anda akan membuat animasi untuk keperluan pembukaan sebuah acara TV dengan nama Balloons. Anda diminta menggabungkan berbagai bahan yang berupa video, gambar, dan suara.
Melihat hasil akhir
Sebelum Anda mulai ada baiknya untuk melihat hasil akhir latihan kali ini. Bukalah file Final_balloons.AVI pada folder Latihan_01 dengan Windows Media Player atau QuickTime Player, cukup dengan mengklik dua kali (double-click).
 Kemudian tekan tombol Play, dan Anda akan melihat satu balon yang bergerak dari kecil menjadi besar dan berputar dengan latar belakang berupa awan yang juga bergerak. Kemudian diikuti dengan balon-balon lainnya, dan diakhiri dengan teks “BALLOONS”.
Membuat project
Langkah pertama adalah dengan membuat Project dengan menu:
File > New > New Project
Mengimpor footage
 Kemudian menyiapkan bahan-bahan yang dapat berupa digital video, animation, still-image, dan sound dengan menu Import. Langkah ini dapat pula dilakukan belakangan bila ingin menambahkan file lainnya. File-file yang telah disisipkan dalam Project window ini pada dasarnya hanya semacam daftar saja. File-file ini tetap terpisah dan berada di luar dokumen After Effects. Sehingga salah satu keuntungannya adalah dapat menghemat ukuran file dokumen After Effects. Untuk menyisipkan file dapat dilakukan dengan menu: File > Import > File
Sebagai latihan pilihlah file Sky.AVI yang berupa file video dan Intro.AIF yang berupa file suara. Kemudian akhiri dengan klik tombol Open.
 Selanjutnya ulangi langkah yang sama dan pilihlah file Balloons.PSD. Namun karena file yang disisipkan berupa dokumen Adobe PhotoShop (PSD) yang berisi beberapa layer terpisah, maka pada pilihan File of type pilihlah Photoshop (*.pdf,*.psd) dan pada pilihan Import As pilihlah Composition – Cropped Layer dan akhiri dengan klik tombol Open.
Dan hasilnya dapat Anda lihat pada Project window yang berisi daftar beberapa file yang telah Anda sisipkan. Perhatikan pada folder Ballons Comp 1 yang terdiri dari tiga layer terpisah.
Membuat composition
Langkah selanjutnya adalah membuat composition. Langkah ini dapat pula dilakukan sebelum langkah penyisipan file. Dalam satu Project Anda dapat membuat lebih dari satu Composition. Dan masing-masing Composition dapat diberi nama sesuai kebutuhan. Pada composition ini Anda dapat menentukan ukuran frame animasi (Frame Size),  kecepatan animasi (Frame Rate) dan durasi animasi (Duration). Untuk membuat Composition gunakan menu: Composition > New Composition
 Sebagai latihan pilihlah Preset dengan Medium, 320x240, yang berarti Composition nanti akan berukuran lebar 320 pixel dan tinggi 240 pixel. Kemudian ubahlah Frame Rate menjadi 15 Frame per second (fps) dan Duration menjadi 10 Second (0:00:10:00).
Memindahkan footage
Langkah berikutnya adalah memindahkan footage item dari Project window ke  Timeline window atau Composition window. Anda dapat memilih salah satu footage item di Project window dengan Selection tool kemudian menggesernya (drag) ke Timeline window atau Composition window. Sebaiknya mulailah dengan memilih footage item yang nantinya akan diletakkan pada urutan paling bawah dalam Timeline window.
Sebagai latihan mulailah dengan memindahkan Sky. AVI kemudian folder Balloons. Khusus untuk folder Balloons, supaya masing-masing layernya dapat dimodifikasi secara terpisah maka bukalah Opener (klik pada simbol segitiga kecil) di sebelah kiri folder Balloons pada Project window.
 Kemudian akan muncul tiga layer sesuai dengan jumlah layer pada Adobe PhotoShop. Pindah ketiga layer berisi gambar balon udara satu persatu atau bersama-sama ke Timeline window. Hasilnya kurang lebih akan sama seperti pada gambar di samping.







Menyimpan pekerjaan
Bila semuanya telah disiapkan ada baiknya untuk menyimpan pekerjaan Anda dengan menu: File > Save As
Perhatikan ekstension AEP di belakang nama file dari dokumen After Effects. Menu Save As adalah untuk penyimpanan pertama kali, dan untuk penyimpanan selanjutnya cukup dengan menu: File > Save
Mengatur preview
Apabila semua langkah di atas telah dilakukan maka cobalah untuk melihat Preview-nya dengan menekan tombol Play pada Time Controls palette. Perhatikan gerakan Time Marker pada Timeline window dari kiri ke kanan. Dan juga perhatikan tampilan pada Composition window di mana terlihat gambar langit yang bergerak pada latar belakang dan gambar ketiga balon dalam keadaan diam sepanjang waktu. Loop berguna untuk mengulangi preview secara terus menerus.
 Untuk melihat Preview secara real time maka tekanlah tombol RAM Preview pada Time Controls palette. Namun bila hardware Anda tidak memadai maka Preview tidak akan ditampilkan secara utuh.
Salah satu cara  untuk menghindari hal ini adalah dengan mengurangi resolusi tampilan composition window. Terdapat empat pilihan untuk menampilkan Preview pada Composition window yaitu Full, Half, Third dan Quarter.
 Pilihan Full akan memberikan tampilan yang mendekati sesungguhnya,    namun gerakan yang terlihat lebih lambat    dari
kecepatan sebenarnya. Sebaliknya bila Anda    ingin    melihat gerakannya yang lebih nyata, maka pilihlah Quarter.