Rabu, 27 Oktober 2010

BAB I
ARTI PENTING BELAJAR
A.  Arti Penting Belajar
1.    Arti Penting Belajar bagi Perkembangan manusia
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan oleh kemampuan berubah karena belajarlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk-makhluk lainnya, sehingga ia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Boleh jadi, karena kemampuan berkembang melalui belajar itu pula manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.
2.  Arti Penting bagi Kehidupan Manusia
Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis bisa pula terjadi karena belajar. Contoh, tidak sedikit orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk membuat orang lain terpuruk atau bahkan menghancurkan kehidupan orang tersebut.
Kenyataan tragis lainnya yang lebih parah juga terkadang muncul karena hasil belajar. Hasil belajar pengetahuan dan teknologi tinggi, misalnya, tak jarang digunakan untuk membuat senjata pemusnah umat manusia. Alhasil, kinerja akademik (academik performance) yang merupakan hasil belajar itu, di samping membawa manfaat, terkadang juga membawa madarat. Akan hilangkan arti penting upaya belajar karena timbulnya tragedi-tragedi tadi?
Meskipun ada dampak negatif dari hasil belajar sekelompok manusia tertentu, kegiatan belajar tetap memiliki arti penting. Alasannya, seperti yang telah dikemukakan di atas, belajar itunya, dengan ilmu dan teknologi hasil belajar kelompok manusia. Arti tertindas itu juga dapat digunakan untuk membangun benteng nangkis agresi sekelompok manusia tertentu yang mungkin hanya dikendalikan oleh segelintir olnum, yakni manusia-manusia yang mungkin bernafsu serakah atau mengalami gangguan psychopathy yang berwtak merusak dan antisosial (Reber), 1988).
Selanjutnya, dalam perspektif keagamaan pun (dalam hal ini Islam). Belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka. Hal ini dinyatakan dalam surat Mujadalah ayat 11 yang artinya sebagai berikut :
“. . . niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orang-orang beriman dan berilmu . . .”

B.  DEFINISI DAN CONTOH BELAJAR
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestsinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil belajar yang dicapai peserta didik.
  1. Definisi Belajar
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.
Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis. Berdasarkan persepsi semacam ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut, berikut ini akan disajikan beberapa definisi dari pada ahli disertai komentar dan interpretasi seperlunya.

  1. Contoh Belajar
Dalam mempermudah pemahaman Anda mengenai bagaimana sebenarnya proses belajar itu berlangsung, berikut ini akan dikemukakan dua contoh sederhana sebagai gambaran. Setelah itu, akan dikemukakan pula sebuah contoh tandingan yang disertai komentar seperlunya.
Seorang anak balita (berusia di bawah lima tahun) memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia mencoba mainan ini dengan cara memutar kuncinya dan meletakkannya pada suatu permukaan atau dataran. Perilaku “memutar” dan “meletakkan” tersebut merupakan respons atau reaksi atas rangsangan yang timbul/ada pada mainan itu (misalnya, kunci dan roda mobil-mobilan tersebut).
Pada tahap permulaan, respons anak terhadap stimulus yang ada pada mainan tadi biasanya tidak tepat atau setidak-tidaknya tidak teratur. Namun, berkat latihan dan pengalaman berulang-ulang, lambat laun ia menguasai dan akhirnya dapat memainkan mobil-mobilan dengan baik dan sempurna. Sehubung dengan contoh ini, belajar dapat kita pahami sebagai proses yang dengan proses itu sebuah tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi atau rangsangan yang ada.
Contoh lainnya, banyangkanlah bahwa si Fulan sedang berada dalam sebuah ruangan eksperimen yang pintu dan jendelanya terkunci rapat. Ia sangat lapar, tetapi tidak tahu bagaimana mengatasi rasa laparnya itu, Apakah yang dapat Fulan lakukan? Mungkin ia akan berteriak meminta pertolongan, tetapi ia tidak melakukannya karena akan sia-sia belaka. Daripada berteriak-teriak ia merasa lebih baik mengelilingi ruangan itu, mengamati seluruh bagiannya, bahkan meraba-raba sambil mencari sesuatu berkali-kali.
Akhirnya Fulan menemukan sebuah tombol kecil dekat sebuah lubang tipis yang lebarnya kira-kira 10 cm. Ia menekan tombol itu, lalu terdengar bunyi “tit-tit-tit” diiringi suara laksana jatuhnya sebuah benda ringan. Namun ia tidak melihat apa-apa. Menghadapi situasi seperti ini ia mundur untuk menghindari sesuatu yang mungkin mencelakakannya. Namun, ketika suara aneh tadi berhenti, tiba-tiba sebuah benda tipis dan bulat muncul dari lubang, ternyata : biskuit! Kemudian kue itu ia makan. Selanjutnya, karena ia masih lapar, tombol itu ia tekan lagi berkali-kali untuk menghasilkan biskuit sebanyak-banyaknya, hingga ia akhirnya merasa kenyang.
Dalam situasi seperti tersebut di atas, tombol dan lubang tadi merupakan stimulus, sedangkan rasa lapar yang si Fulan alami itu adalah motivasi, Kedua unsur ini lalu menimbulkan respons khusus (penekanan tombol) yang terus meningkat dan lebih teratur, karena adanya penguat (reinforcer) yakni biskuit. Peristiwa seperti tadi dalam psikologi belajar dikenal dengan istilah instrumental conditioningatau aperant conditioning. Menurut Houston instrumental (penolong) yang berguna untuk memperoleh sesuatu atau perubahan yang diharapkan.

C. BELAJAR, MEMORI, DAN PENGETAHUAN
1.    Perspektif Psikologi
Pada umumnya para ahli psikologi belajar khususnya mereka yang tergolong cognitivist (ahli sains kognitif) sepakat bahwa hubungan antara belajar, memori, dan pengetahuan itu sangat erat dan tak mungkin dipishkan. Memori yang biasanya kita artikan sebagai ingatan itu sesungguhnya adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan stroge system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia.
2.    Pusat Memori dan Pengetahuan
Menurut Bruno (1987), memori ialah proses mental yang meliputi pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan yang semuanya terpusat dalam otak. Bagaiman hubungannya dengan belajar, dapat anda ketahui dari contoh berikut ini.
Apabila siswa anda menerima pelajaran tentang Allah, maka mula-mula informasi tentang Tuhan semesta alam ini akan masuk ke dalam short term memory atau working memory/memori jangka pendek melalui indera mata ( dengan cara melihat simbol/tulisan nama Allah ) atau telinga siswa tersebut (dengan cara mendengar sebutan nama Allah), Kemudian, informasi mengenai Tuhan itu diberi kode misalnya dalam bentuk simbol-simbol huruf A-L-L-A-H. Setelah selesai proses pengkodean (encoding), informasi itu masuk dan tersimpan di dalam long term memory atau permanent memory yakni memoti jangka panjang atau permanen.

D.    PROSES DAN TAHAPAN BELAJAR
1.    Definisi Proses Belajar
Proses adalah kata yang berasal dari bahas latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin (1972), proses adalah : Any change in any object or organism, particularly a behavioral or psychological change (Proses adalah sesuatu perubahan khususnya yang menyangkut perubahan tingkah laku atau perubahan kejiwaan).
Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu (Reber, 1988). Jika kita perhatikan ungkapan any change in object or organism dalam definisi Chaplin di atas dan kata-kata “cara-cara atau langkah-langkah” (manners of operations) dalam definisi Reber tadi, istilah “tahapan perubahan” dapat kita pakai sebagai padanan kata proses. Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
2.    Tahap-tahap dalam Proses Belajar
a.    Menurut Jerome S. Bruner
Karena belajar itu merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui  tahap-tahap yang antara satu dengan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional. Menurut Bruner, salah seorang penentang teori SR Bond yang terbilang vokal (Barlow, 1985), dalam proses belajar siswa menempuh tiga episode/ tahap, yaitu :
1)    tahap informasi (tahap penerimaan materi) ;
2)    tahap transformasi (tahap perubahan materi) ;
3)    tahap evaluasi (tahap penilaian materi).
b.    Menurut Arno F. Witting
Menurut Witting (1981) dalam buku Psychology of Learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahap yaitu :
1)    acquisition (tahap perolehan/penerimaan informasi) ;
2)    storange (tahap penyimpanan informasi) ;
3)    retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi).
c.    Menurut Albert Bandura
Menurut Bandura (1977), seorang behavioris moderat penemu teori social learning/observational learning, setiap proses belajar (yang dalam hal ini terutama belajar sosial dengan menggunakan model) terjadi dalam urutan tahapan peristiwa yang meliputi :
1)    tahap perhatian (attentional phase) ;
2)    tahap penyimpanan dalam ingatan (retention phase) ;
3)    tahap reproduksi (reproduction phase) ;
4)    tahap motivasi (motivation phase).















































BAB II
HAKIKAT CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang mencitapkannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi yang lahirlah interaksi edukatif dengan memamfaatkan bahan sebagai mediumnya. Disana semua komponen pengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Disini tentu saja tugas guru berusaha menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan bagi semua anak didik. Suasana belajar yang tidak menggairahkan dan menyenangkan bagi anak didik biasanya lebih banyak mendatangkan kegiatan belajar mengajar yang kurang harmonis. Anak didik gelisah duduk berlama-lama di kursi. Kondisi ini tentu menjadi kendala yang serius bagi tercapainya tujuan pengajaran dan sebagai kegiatan yang bernilai edukatif, belajar mengajar mempunyai hakikat, ciri dan komponen. Ketiga aspek ini perlu guru ketahui dan pahami guna menunjang tugas di medan pengabdian. Ketiga aspek ini diuraikan pada pembahasan berikut:
A.    Hakikat Belajar Mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secar aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Peranan guru sebagai pembimbing bertolak dari cukup banyaknya anak didik yang bermasalah. Dalam belajar ada anak didik yang cepat mencerna bahan, ada anak didik yang sedang mencerna bahan, ada pula anak didik yang lamban mencerna bahan yang diberikan oleh guru. Ketiga tipe belajar anak didik ini menghendaki agar guru mengatur strategi pengajarannya yang sesuai dengan gaya-gaya belajar anak didik.
B.     Ciri-Ciri Belajar Mengajar
Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:
1.      Belajar mengajar memiliki tujuan,
2.      Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3.      Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang
khusus.
4.      Ditandai dengan aktivitas anak didik.
5.      Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.
6.      Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin.
7.      Ada batas waktu
8.      Evaluasi
C.     Komponen-Komponen Belajar Mengajar
Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi. Penjelasan dari setiap komponen tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari palaksanaan suatu
kegiatan. Dengan perkataan lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. Nilai-nilai itu nantinya akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya, baik di sekolah maupun di luar sekolah.Semua tujuan itu berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, dan tujuan di bawahnya menunjang tujuan di atasnya. Bila tujuan terendah tidak tercapai, maka tujuan di atasnya juga tidak tercapai, sebab rumusan tujuan terendah biasanya menjadikan tujuan di atasnya sebagai pedoman. Tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi.
Ny. Dr. Roestiyah. N.K. ( 1989; 44) mengatakan bahwa suatu tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran mengatakan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan sekedar suatu proses dari pengajaran itu sendiri.
2.      Bahan Pengajaran
Bahan Pengajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses
belajar mengajar. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai profesinya. Sedangkan bahan pengajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan adalah salah satu sumber belajar bagi anak didik. Bahan yang disebut sebagai sumber belajar (pengajaran) ini adalah sesuatu yang membawa pesan unutk tujuan pengajaran. Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu. Karena itu, lebih baik menyampaikan bahan sesuai dengan perkembangan bahasa anak didik daripada menuruti kehendak pribadi. Ini perlu mendapat perhatian yang serius, agar anak didik tidak dirugikan oleh sikap dan tindakan guru yang keliru.
3.      Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu anak didiklah yang lebih aktif, bukan guru. Guru hanya berperan sebagi motivator dan fasilitator.  Dalam kegiatan belajar mengajar, guru akan menemui bahwa anak didiknya sebagian ada yang dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas  dan ada pula anak didik yang kurang menguasai bahan pelajaran secara tuntas. Kenyataan tersebut merupakan persoalan yang perlu diatasi dengan segera, dengan demikian, kegiatan belajar mengajar yang bagaimanapun, juga ditentukan dari baik atau tidaknya program pengajaran yang telah dilakukan dan akan berpengaruh terhadap tujuan yang akan dicapai.
4.      Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik. Oleh karena itu, disinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat ( tentang hal ini akan dibicarakan dalam bab lima tentang beberapa pengajaran ). Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M. Sc. Ed, mengemukakan lima macam factor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar sebagi berikut :
a.      Tujuan yang berbagai-bagai jenis dan fungsinya
b.      Anak didim yang berbagai-bagai tingkat kematangan
c.      Situasi yang berbagai-bagai keadaannya
d.      Fasilitas yang berbagai-bagai kualitas dan kuantitasnya
e.      Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda
5.      Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan ( Drs. Ahmad D. Marimba, 1989; 51 ). Alat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu alat dan alat Bantu pengajaran. Yang dimaksud dengan alat adalah berupa suruhan, perintah atau larangan. Sedangkan alat Bantu pengajaran adalah berupa globe, papan tulis dan gambar.
6. Sumber Pelajaran
Belajar mengajar telah diketahui, bukanlah berproses dalam kehampaan, tetapi berproses dalam kemaknaan, didalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik. Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang ( Drs. Udin Saripuddin Winataputra, M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata, 1991; 165). Dengan demian, sumber belajar itu merupakan bahan untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru nagi si pelajar. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan).
7. Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa inggris, yaitu evaluation. Dalam buku Essentials of Educational Evational karangan Edwin Wand dan Gerald W. Brown. Dikatakan bahwa “evaluation refer to the act or prosses to determining the value of something”. Jadi, menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Menurut Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, (1983; 1) evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.
Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum evaluasi seperti mengumpulkan data-data yang membuktikan kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Sedangkan tujuan khusus evaluasi seperti menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan murid. Pelaksanaan evaluasi mempunyai mamfaat yang sangat besar. Mamfaat itu dapat ditinjau dari pelaksanaannya dan ketika akan memprogramkan serta melaksanakan proses belajar di masa mendatang (H. Muhammad Ali, 1992; 113). Dari tujuan itu juga dapat dipahami bahwa pelaksanaan evaluasi diarahkan kepada evaluasi proses dan evaluasi produk (W.S. Wingkel, 1989; 318). Evaluasi proses dimaksud adalah suatu evaluasi yang diarahkan untuk menilai bagaimana pelaksanaan proses belajar mengajar yang telah dilakukan mencapai tujuan, apakah dalam prose situ ditemui kendala, dan bagaimana kerja sama setiap komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran. Evaluasi produk adalah suatu evaluasi yang diarahkan kepada bagaimana hasil belajar yang telah dilakukan oleh siswa, dan bagaimana penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang telah guru berikan ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Ketika evaluasi dapat memberikan mamfaat bagi guru dan siswa, maka evaluasi mempunyai fungsi sebagai berikut:
a.      untuk memberikan umpan balik (feed back) kepada guru
b.      untuk memberikan angka yang tepat tentang hasil belajar dari setiap murid
c.      untuk menentukan murid di dalam situasi belajar
d.      untuk mengenal latar belakang


















BAB III
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN
ASAS PEMBELAJARAN

 A.Prinsip- Prinsip Belajar
            Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkanupaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, ketertiban langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan serta perbedaan individual.
1.    Perhatian dan Motivasi        
            Perhatian mempunyai peran yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar mengolah informasi terungkap bahwa tanpa adanya erhatian tak mungkin jadi belajar (Gage dan Berliner, 1984:335 ). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa bahwa pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk beljar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
            Di samping perhatian, motivasi mempunyai peran penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan pengemudi mobil (Gage dan Berliner, 1984 : 372 ).
            Motivasi mempunyai kaitan erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai yang dianggap penting dalam kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif eksterinsik. motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.Sebagai contoh, seorang siswa yang sedang sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memilki pengetahuan yang dipelajarinya.Sedangkan motif eksterinsik adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijasah. Motif interinstik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga bersifat ekternal, datang dari luar. Motif ektrinsik bisa bersifat internal maupun eksternal, walaupun lebih banyak bersifat eksternal. Motif eksterinsik dapat juga berubah menjadi motif intrinsik, yang disebut “ transformasi motif ”.
2.    Keaktifan
Kecendrungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya. Guru sekedar pembimbing serta pengarah (John Dewey 1916, dalam Davies, 1937:31)
Thorindike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum”law of exercisr”-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Mc Keachi berkenaan degan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan “manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial”(Mc Keachi, 1976:230 dari Gredler MEB terjemah an Munandir, 1991:105).
3.    keterlibatan langsung/berpengalaman
Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan “learning by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung . belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun secara kelompok. Dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
4.    pengulangan
Teori yang mengemukakan pengulangan adalah teori psikologi asosiasi atau koneksionisme dengan tokoh nya adalah Thorendike. Berangkat dari hukum belajarnya “law of exercise”, ia mengemukakan bahwa belajar adalah pembentukan hukuman antara stimulus dan respon. Dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons besar.
5.    tantangan
Teori medan (field theory) dari Kift lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapisuatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi , artinya tujuan belajar telah dicapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru , demikian seterusnya.
6.    Balikan dan penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori operant conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responnya. Kunci dari belajar ini adalah law of effect-nya Thorendike.
7.    perbedaan individual
Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifat. Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru , tampak dalam setiap kegiatan prilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung
            a. implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa
 1. perhatian dan motifasi
            Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah kearah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu mamberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang menjadi isi pelajaran sering kali dalam bentuk rangsangan suara, warna, bentuk, gerak, dan rangsangan lain yang dapat di indra.
2. Keaktifan
            Sebagai ”primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, pembelajar dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dn emosional.
Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa berwujud prilaku-prilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari suatu reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan prilaku sejenis lainnya
3. Keterlibatan langsung/ berpengalaman
            Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajartersebut untuknya (Davies, 1987:32).Pernyataan ini, secara mutlak menuntut adanya keterlibatan langsung dari setiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran. Dengan keterlibatan langsung ini, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman
4. Pengulangan
            Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti (davies, 1987:32). Implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam permasalahan. Dengan kesadaran ini, diharapkan siswa tidak merasa bosan dalam melakukan pengulangan
5. Tantangan
            Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pernyataan bahwa apabila siswa diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik (Davies, 1987:32). Hal ini berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh, memproses, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adalah tuntutan dimilikinya kesadaranpada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk slalu memperoleh, memproses, dan mengolah pesan.
6. Balikan dan penguatan
            Siswa slalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan , dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan  tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya. Seorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguat (reinforcement) (Davies, 1987:32).
7. Perbedaan individual
            Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa lain, akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran belajar bagi dirinya sendiri.
            b. implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru
1. Perhatian dan motifasi
        Guru sejak merencanakan kegiatan pembelajarannya sudah memikirkan perilakunya terhadap siswa sehingga dapat menarik perhatian dan menimbulkan motifasi siswa dan tidak berhenyi pada rencana pembelajaran nya. Implikasi prinsip perhatian bagi guru tampak pada prilaku-prilaku sebagai berikut :
1)    Guru menggunakan metode secara bervariasi
2)    Guru menggunakan media sesuai dengan tujuan bekajar dan materi yang diajarkannya
3)    Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton
4)    Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing (direction question)
        Sedangkan implikasi prinsip motifasi bagi guru tertmpak pada perilaku-perilaku yang diantaranya adalah :
1)    Memilih bahan ajar sesuai minat siswa.
2)    Menggunakan metode dan teknik mengajar yang disukai siswa
3)    Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberitahukan hasilnya pada siswa
4)    Memberi pujian verbal atau non verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan
5)    Membberitahukan nilai guna dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa.
2. keaktifan
        Kesempatan yang diberikan oleh guru akan menuntut siswa selalu aktif mencari, memperoleh, dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat menimbulkan keaktifan belajar pada diri siswa, maka guru di antaranya dapat melaksanakan perilaku-perilaku berikut :
1)    Menggunakan multi metode dan multimedia
2)    Memberikan tugas secara individual dan kelompok
3)    Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil (beranggotakan tidak lebih dari 3 orang)
4)    Memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal0hal yang kurang jelas
5)    Mengadakan tanya jawab dan diskusi
3. keterlibatan langsung / berpengalaman
         Untuk dapat melibatkan siswa secara fisik, mental, emosional, dan intelektual dalam kegiatan pembelajaran dengan memprtimbangkan karakteristik isi pelajaran, prilaku sebagai implikasi prinsip keterlibatan langsung / berpengalaman diantaranya adalah:
1)    Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok kecil
2)    Mementingkan eksperiment langsung oleh siswa dibandingkan dengan konsentrasi
3)    Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa
4)    Memberikan tugas pada siswa untuk mempraktekkan gerakan psikomotorik yang dicontohkan
5)    Melibatkan siswa mencari informasi / pesan dari sumber informasi di luar kelas atau luar sekolah
6)    Melibatkan siswa dalam merangkum atau menyimpulkan informasi pesan pembelajaran
4. pengulangan
        Pengulangan diperlukan terhadap pesan-pesan pembelajaran yang dibutuhkan latihan. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan diantaranya adalah :
1)    Merancang pelaksanaan pengulangan
2)    Mengembangkan / merumuskan soal-soal latihan
3)    Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang
4)    Mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan
5)    Membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi
5. Tantangan
        Apabila guru menginginkan siswa selalu berusaha mencapai tujuan, maka guru harus memberikan tantangan pada siswa dalam kegiatan pembelajarannya. Tantangan dalam kegiatan pembelajaran dapat diwujutkan oleh guru melalui bentuk kegiatan, bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip tantangan adalah :
1)    Merencanakan dan mengelola kegiatan eksperiment yang memberikan kesempatan kepada siswa unyuk melakukannya secara individual atau dalam kelompok kecil (3 – 4 orang)
2)    Memberikan tugas pada siswa memecahkan masalah yang membutuhkan informasi dari orang luar sekolah sebagai sumber informasi
3)    Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang selesai dipelajari
4)    Mengembangkan bahan pelajaran (teks, hand out, modul dan yang lain) yang memperhatikan kebutuhan siswa untuk mendapatkan tantangan didalamnya
5)    Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasin sendiri
6)    Guru merancang dan mengelola kegiatan diskusi untuk menyelenggarakan masalah-masalah yang disajikan dalam topik diskusi
6. Balikan dan penguatan
         Agar balikan dan penguatan bermakna bagi siswa , guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa. Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi guru, berwujud perileku-perileku yang diantaranya adalah :
1)    Memberitahukan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah dijawab siswa secara benar ataupun salah
2)    Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu yang telah ditentukan
3)    Memberikan catatan-catatan pada hasil kerja siswa (berupa makalah, laporan, kliping pekerjaan rumah)
4)    Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru, disertai skor dan catatacatatan bagi pembelajar
5)    Mengumumkan atau mengkonfirmasipengikat yang telah diraih setiap siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes
6)    Memberikan anggukan atau acungkan jempol atau isyarat lain kepada siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.
7)    Memberikan hadiah / ganjaran kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas
7. perbedaan individual
          Konsekwensi logis adanya hal ini, guru harus mampu melayani setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang per orang. Implikasi prinsip perbedaan individual bagiguru berwujud prilaku-prilaku yang diantaranya adalah :
1)    Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya
2)    Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran
3)    Mengenali karakteristik setiap siswa hingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan
4)    Memberikan remediasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan

       Dari pembahasan prinsip-prinsip belajar yang berimplikasi bagi siswa maupun guru, dalam satu kegiatan yang dilakukan siswa maupun guru, anda menemukan perwujudan / penampakan dari prinsip-prinsip belajar lebih dari satu. Kenyataan bahwa dalam satu kegiatan pembelajaran terdapat lebih dari satu nprinsip belajar yang tampak, menuntut guru untuk benar-benar menguasai dan terlebih menandai perwujudan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan pembelajaran.






BAB IV
MOTIVASI BELAJAR

A.  Motivasi dan pentingnya motivasi
     1. Pengertian motivasi
            Pada diri siswa terdapat kekuatan mental yang menjadi penggerak belajar. Kekuatan penggerak tersebut berasal dari berbagai sumber. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan , menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.
            Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu:
1.      kebutuhan
2.      dorongan
3.      tujuan
            Dorongan meraupakan kekuatan mental yang beraorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan, dorongan yang berorientasi tersebut merupakan motivasi. Maslow membagi kebutuhan menjadi 5 tingkat yaitu:
1.      kebutuhan psikologi
2.      kebutuhan akan perasaan aman
3.      kebutuhan social
4.      kebutuhan akan penghargaan diri
5.      kebutuhan untuk aktualisasi diri.
            Kebutuhan psikologi berakenaan dengan kebutuhan pokok manusia seperti pangan, sandang dan perumahan. Kebutuhan akan perasaan aman berkenaan dengan keamanan yang bersifat psikologis. Kebutuhan social berkenaan dengan perwujud berupa diterima orang lain , jati diri yang khas , berkeasepakatan maju , merasa diikutsertakan, dan pemilikan harga diri. Kebutuhan untuk aktualitas diri berkenaan dengan kebutuhan individu untuk menjadi sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya.
            Ahli lain, Mc.clend berpendapat bahwa setiap orang memiliki 3 jenis kebutuhan besar yaitu:
  1. kebutuhan akan kekuasaan
  2. kebutuhan berfasilitas
  3. kebutuhan berprestasi
            kebutuhan akan kekuasaan terwujud dalam keinginan mempengaruhi orang lain.kebutuhan fasilitas berceaarmin dalam wujudbersahabat dengan orang lain.Kebutuhan berprestasi berwujud dalam keberhasilan melakukan tugas-tugas yang dibebanka.ketiga kebutuhan dasar tersebut saling melemgkapi. Dari segi dorongan menurut Hull dorongan atau motivasi berkembang untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Dari segi tujuan, maka tujuan merupakan pemberian arah pada prilaku. Secara spikologis, tujuan merupakan titik akhir”sementara” pencapaian kebutuhan.
            Menurut Havighurtst tugas-tugas perkembangan tersebut meliputi masa bayi, anak sekolah, masa muda, masa dewasa muda, usiatengah baya, dan masa dewasa lanjut.
Menurut Monks, kekuatan mental atau kekuatan motivasi tersebut dapat dipelihara. Pelajaran perilaku manuasia, termasuk perilakau belajar dapat diperkuat dan dikembangkan. Paham-paham interaksionis, paham tugas perkembangan, dan teori emansipasi mengakui pentingnya pemeliharaan motivasi belajar.Dorongan dari dalam ataukekuatan mental dan pengaruh dari luar pengaruh pada kemajuan individu.interaksi kekuatan mental dan lingkungan luar tersebut ditentukan pula oleh respon prakarsa pribadi pelaku.
2. Pentingnya motivasi dalam belajar
            Penelitian psikologi banyak menghasilkan teori-teori motivasi tentang perilaku.subjek terteliti dalam motivasi ada yang berupa hewan dan ada yang berupa manusia. Penelitian yang menggunakan hewan adala tergolong peneliti biologis dan behavioris.peneliti yang menggunakan terteliti manusia adalah penelitian konitif. Temuan ahli-ahli teaarseaabuta bermanfaat untuk bidang industri, tenaga kerja, urusan pemasaran, rekrutin militer, konsultasi, dan pendidiikan.
            Para ahli berpendapat bahwa motivasi berpendapat perilaku manusia berasal dari kekuatan mental umum, insting, dorongan kebutuhan, proses konitif dan interaksi.
            Perilaku yang penting bagi manusia adalah belajar dan bekerja.Belajar meanaimbulkan perubahan mental pada diri siswa. Bekerja menghasilkan suatu yang bemanfaat bagi diri perilaku dan orang lain. Motivasi dan motivasi bekerja merupakan penggerak kemajuan masyarakat. Kedua motivasi tersebut perlu dimiliki oleh siswa SLTP dan SLTA. Sedangkan guru SLTP dab SLTA dutuntut memperkuatmotivasi siswa SLTP dan SLTA.
            Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru bagi siswa pentingnya motivasi adalah sebagai berikut:menyadarkan kedudukan pada awal belajar, prosesaa dan hasil akhir. Motivasi belajar juga penting diketahui oleh guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat itu sebagai berikut :
1        membangkitkan, meningkatkan dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil
2        mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam ragam ada yang acuh tak acuh, ada yang tak memusatkan perhatian, ada b yang bermaindi samping yang bersemangat belajar.
3        Meningkatakan kesadaran dan menyadarkan guru untuk meamilih satu di antara bermacam-macam peran seperti ; penasehat, fasilitator instruktur, temen diskusi, penyemangat, pemberi hadiah atau pendidik. Peranpedagogis terseabut sudah barang tentu sesuai dengan perilaku siswa.
4        Memberikan peluang guru untuk unjuk kerja, rekayasa atau pegagogis. Tugas guru adalah membuat semua siswa belajar sampai berhasil.
B. Jenis dan sifat motivasi
            Motivasi sebagaiu kekuatan mental individu, memiliki tingkat-tingkat.
Para ahli ilmu jiwa mempunyai pendapat yang berbeada tentang tingkat kekuatan tersebut. Meskipun mereka berbeda pendapat tentang tingkat kekuatan, teataapi mereka umumnya sependapat bahwa motivasi tersebut dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:motivasi primer dan sekunder.
  1. Jenis motivasi
  Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motivasi dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmanai manusia. Manusia adalah mahluk jasmani, sehingga perilaku atau kebutuhan jasmaniah. Mc. Dougall misalnya, berpendapat bahwa tingkah laku terdiri dari pemikiran tentang tujuan, perasaan subjektif, dan dorongan mencapai kepuasan. Insting itu memiliki tujuan dan memerlukan pemuasan tingkah laku instibng tersebut dapat diaktifkan dimidifikasi, dipacu secara spontan, dan dapat diorganisasikan.
            Motivasi Skunder adalah motivasi dipelajari, hal ini berbeda dengan motivasi primer. Sebagai ilustrasi orang yang lapar akan tertarik makanan tanpa belajar. Untuk meamapaearaoleh makanan dengan baik, orang harus belajar bekerja. “ bekerja dengan baik “ merupakan motivasi skunder. Bila orang baekerja dengan baik maka ia mendapat gaji braearupa uang.uang tersebut merupakan penguat motivasi skunder.
            Motivasi social dan motivasi skunder memegang peran penting bagi kehidupan manusia. Para ahli membagi motivasi skunder menurut pandangan yang berbeda-beda. Tomas dan Znaniecki menggolong-golongkan motivasi skunder menjadi keinginan.
1        memperoleh pengalaman baru
2        untuk mendapatkan respon
3        memperoleh kekuatan
4        memperoleh rasa aman.
            Perilaku motivasi skunder juga terpengaruh oleh adanya sifat. Adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap yakni :
  1. kecenderungan berfikir, merasa, kemudian bertindak
  2. memiliki daya dorong bertindak
  3. relative berasifat tetap
  4. beraakecenderungan melakukan penelitian,
  5. dapat timbul dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah
            Perilaku juga terpengaruh oleh emosi, emosi menunjukkan adannya jenis kegoncangan seseorang. Kegoncangan teaarseabut disertai proses jasmanai, perilaku, dan kesadaran, emosi memiliki fungsi sebagai pembangkit energi, misalnya, karena dicemoohkan orang menjadi berusaha keras sehingga berhasil. Emosi memiliki intensitas dan lama berlaku, ada emosi yang ringan , kuat, dan disentekratif. Emosi yang ringan berakibat meaningkatkan perahatian pada objek yang dihargai.misalnya orang yang tetarik pada tontonan yang memikat. Emosi yang kuat disertai dengan perubahan psikologis yang kuat. Misalnya orang yang sudah marah, maka detak jantung bertambah dan perbahasan meningkat. Emosi yang disentekratif terjadi apabila emosi memuncak, dan terjadi perubahan perilaku misalnya orang berada dalam perdebatan.
Perilaku juga berpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya. Pengetahuan yang dipercaya tersebut ada kalanya beardasarkan akal, atau tak berdasar akal sehat. Perilaku berpengaruh oleh kebiasaan dan kemauan. Keabiasaan merupakan perilaku menetap dan berlangsung ototmatis, kemauan merupakan tindakan mencapai tujuan secara kuat.
  1. Sifat motivasi
Motivasi seseorang dapat bersumber dari
  1. dalam diri seandiri, yang dikenal sebagai motivasi internal
  2. dari luar seseorang yang dikenal sebagai motivasi eksternal
      Motivasi intrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu karena dorongan dari luar seperti adannya hadiah dan menghindari hukuman. Motivasi intrinsip banyak dilakukan di sekolah dan masyarakat. Hadiah dan hukuman sering digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar.motivasi belajr meningkatkan sebab siswa tidak senang peringatan dari guru  \atau orang tua, dalam hal ini hukuman dan hadiah dapat merupakan motivasi ekstrinsip bagi siswa untuk belajar dengan semangat.
            Motivasi eantrinsip dapat dijadikan titik pantau rekayasa pedagogis guru, sebaiknya guru maengenal adanya motivasi-motivasi tersebut. Untuk mengenal motivasi yang sebenarnya, guru perlu melakukan penelitian, ini berarti guru SLTP dan SLTA, sesuai tuntutan profesi guru.
C.  Motivasi dalam belajar
            Perailaku belajar terdapat motivasi belajar. Motivasi belajar tersebut adannya intrinsik atau nektrinsik motivasi belajar tersebut ada di tangan guru atau pendidik dan anggota masyarakat lain. Guru sebagai pendidik bertugas memperkuat motivasi belajar selama minimum 9 tahun pada usia wajib belajar. Orang tua bertugas memperkuat otivasi belajar sepanjang hayat

















BAB VI
PENDEKATAN PEMBELAJARAN

            Dalam kegiatan belajar mengajar guru di hadapakan oada siswa.siswa yang di hadapi oleh guru rata-rata satu kelas yang terdiri dari empat puluhan orang,hal ini menujunkan betapa pentingnya keterampilan mengorganisasi siswa sisiwa agar belajar,pembelajaran meningkatkan kemampuan-kemampuan koqnitif,afektif dan keterampilan siswa suatu prasyarat teknis untuk dapat membelajarkan adalah  bahwa seorang pembelajar ( guru ) sudah bertindak belajar itu sendiri
  1. pengorganisasian  siswa
1.    pembelajaran secara individual
pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing- masing individu. Cirri-ciri yang menonjol pada pada pembejaran individual dapat di tinjau dari segi : ( i ) tujuan pengajaran ( ii ) siswa sebagai sujek yang belajar ( iii ) guru sebagai pembelajar (iv ) prigram pembelajarn serta ( v ) orientasi dan tekanan utama dalam pelaksanaan pembelajaran
  1. tujuan pengajaran pada pembelajaran secara individual
adapun tujuan pengajaran yang menonjol adalah
a.pemberian kesempatan dan keleluasaan sisiwa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri
     2. pengembangan tiap individu secara optimal       
  • siswa dalam pemnelajaran secara individual
kedudukan siswa dalam pembelajaran individual bersifat sentral pembelajar merupakan pusat layanan pengajaran klasikal siswa memiliki keleluasaan berupa ( i ) keleluasaan berupa keleluasaan belajar berdasarkan kemmampuan diri sendiri ( ii ) kebebasan mengunakan waktu belajar,dalam hal ini siswa bertanggung jawab atas semua kegiatan yang di lakukan yang di lakukannya, ( iii ) keleluasaan dalam mengontrol kegiatan,kecepatan,intensitas belajar dalam rangka mencapai tujuan belajar yang di tetapkan,( iv ) siswa melakukan penilaian sendiri atas hasli belajar,( v ) sisiwa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar,serta ( vi ) siswa memilki kesempatan untuk menyusun program belajar sendiri
  • guru dalam pembelajaran secara individual
kedudukan guru dalam pembelajaran individual bersifat membant. Bantuan guru berkanan dengan komponen pembelajaran berupa ( i ) perencanaan kegiatan belajar,( ii ) pengorganisasian kegiatan belajar, ( iii ) penciptaan pendekatan terbuka antar guru dan siswa, dan ( iv ) fasilitas yang mempermudah belajar
dan,peranan guru dalam merencanakan kegiatan belajar sebagai berikut : ( i ) membantu merencakan kegaiatn belajar siswa, ( ii ) membicarakan pelaksanaan belajar,mengemukakan krieteria keberhasilan belajar,menentukan waktu dan kondisi belajar,( iii ) berperan sebagai pembimbing dan penasihat,dan ( iv ) membantu dalam penilaian dalam belajar dan kemajuan sendiri
peranan guru dalam pengorganisasian kegiatan belajar adalah mengatur dan memonitorkegiatan belajar dari awal sampai akhir,peranan guru dalam penciptaan hubungan terbuka dengan siswa bertujuan menimbulkan perasaan bebas dalam belajar dan peranan guru yang sangat penting adalah fasilitator belajar,tujuannya dalah mempermudah belajar
  • program pembelajaran dalam pembelajaran individual
dari segi pembelajar,program oembelajaran individual lebih efektif, sebab siswa belajar dengan programnya sendiri. Dari segi guru yang terkait dengan jumlah pembelajar,tampak kurang efisien.dari segi usia perkembangan pebelajar,maka program pembelajaran individual cocok bagi siswa  SLTA ke atas  hal ini di sebabkan oleh ( i ) umumnya siswa sudah dapat membaca dengan baik,( ii ) siswa mudah memahami petunjuk atau perintah dengan baik,dan ( iii ) siswa dapat bekerja mandiri dan bekerja sama dengan baik. Dari segi bidang study,maka tidak semua bidang study cocok untuk di programkan  secara individual. Bidang study yang dapat di programkan secara individual  adalah penejaran bahasa,matmatika,IPA,IPS bagi bahan ajaran tertentu,bagi bidang study musik kesenian dan olahraga yang bersifat perorangan juga cocok untuk program oembelajaran individual.
Program pembelajaran individual dapat di laksanakan secara efektif,bila mempertimbanhkan hal berikut,( i ) di sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa ( ii ) tujuan pembelajaran di buat dan di mengerti oleh siswa ( iii ) prosedur dan cara kerja di mengerti oleh siswa, dan ( iv ) criteria keberjhasilan di mengerti oleh sisiwa, dan ( v ) keterlibatan guru dalam evaluasi  di mengerti oleh siswa
  1. pembelajaran secara kelompok
a.tujuan pengajaran pada kelompok kecil
        adapun tujuan pengajaran pada kelompok kecil adalah ( i ) memeberi kesempatan pada setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional,( ii ) mengembangkan sikap social dan semangat gotong royong dalam kehidupan, ( iii ) mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga tiap anggota merasa diri sebagai kelompok yang bertanggung jawab,dan ( iv ) mengembangkan kemampuan kepemimpinan-keterpimpinan  pada setiap anggota kelompok  dalam pemecahan masalah kelompok
b.siswa dalam pembelajaran kelompok kecil
        ciri-ciri kelompok kecil yang menonjol sebagai berikut ( i ) tiap siswa sadar diri sebagai anggota kelompok, ( ii ) tiap siswa merasa diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan kelompok,( iii ) memiliki rasa saling membutuhkan dan saling tergantung,( iv ) ada interaksi dak komunikasi antar anggota,serta ( v ) ada tindakan bersama sebagai perwujudan tanggung jawab kelompok . agar kelompok kecil berperan konstruktif dan produktif  di harapkan ( I ) anggota kelompo sadar diri menjadi anggota kelompok ( ii ) siswa sebagai anggota kelompok mmemiliki rasa tanggung jawab ( iii ) tiap anggota kelompok membina hubungan akrab yang mendorong timbulnya semangat tim, dan ( iv ) kelompok mewujud dalam satuan kerja yang kohesif
c. guru sebagai pembelajar dalam pembelajaran kelompok
        peranan dalam pembelajarankelompok terdiri dari ( i ) pembentukan kelompok ( ii ) perencanaan kelompok, ( iii ) pelaksanaan ( iv ) evaluasi sebagai hasil kelompok pembentukan kelompok kecil merupakan kunci keberhasilan belajar kelompok meskipun demikan ada hal yang patut di perimbangkan pertimbangan pembnetukan yang di maksud adalh ( i ) tujuan yang akan di peroleh siswa dalam bekelompok   ii ) latar belekang siswa ( iii ) minat atau pusat perhatian siswa
  1. pembelajaran secara klasikal
         Pembelajaran klasikal merupakan kemampuan guru yang utama. Hal ini disebabkan oleh pengajaran klasikal merupakan kegiatan mengajar yang tergolong efisien. Secara ekonomis, pembiayaan kelas lebih murah. Oleh kareba itu ada jumlah siswa dalam kelas. Jumlah siswa tiao kelas pada umunya berkisar dari 10-45 orang. Dengan jumlah tersebut seorang guru masih dapat membelajarkan siswa secara berhasil. Pembelajaran kelas berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus yaitu (i) pengelolaan kelas dan (ii) pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar yang baik. Dalam pengelolaan kelas dapat terjadi masalah yang bersumber dari (i) kondisi tempat belajar, dan (ii) siswa yang terlibat dalam belajar. Kondisi tempat belajar yang berupa ruang kotor, papan tulis rusak dll yang dapat mengganggu belajar. Sedangkan masalah siswa dapat berupa masalah indivudual atau kelompok.
                                                                                      Disamping penyusunan desain intruksional yang dibuat, maka pembelajaran kelas dapat dilakukan dengan tindakan sebagai berikut : (i) penciptaan tertib belajar di kelas, (ii) penciptaan suasana senang dalam kelas, (iii) pemusatan perhatian pada bahan ajar, (iv) mengikutsertakan siswa belajar aktif, (v) pengorganisasian belajar sesuai dengan kondisi siswa
B.   Posisi Guru Siswa Dalam Pengolahan Pesan
Dalam kegiatan belajar mengajar guru berusaha menyampaikan sesuatu hal yang disebut “pesan”. Sebaliknya, dalam kegiatan belajar siswa juga berusaha memperoleh sesuatu hal. Pesan atau sesuatu hal tersebut dapat berupa pengetahuan, wawasan, keterampilan atau isi ajaran yang lain seperti kesenian, kesusilaan dan agama.
1.    Pembelajaran dengan strategi ekspositori
Perilaku mengajar dengan stratetgi ekspositori juga dinamakan model ekspositori. Model pengajaran ekspositori merupakan kegiatan mengajar yang terpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan terperinci tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Hal yang esensial pada bahan pengajaran harus dijelaskan kepada siswa.
Peranan guru yang penting adalah sebagai berikut : (i) penyusun program pembelajaran, (ii) pemberi informasi yang benar, (iii) pemberi fasilitas belajar yang baik, (iv) pembimbing siswa dalam pemerolehan informasi yang benar, dan (v) penilai pemerolehan informasi
Peranan siswa yang penting adalah : (i) pencari informasi yang benar, (ii) pemakai media dan sumber yang benar, (iii) menyelesaikan tugas sehubungan dengan penilaian guru. Adapun hasil belajar yang dievaluasi adalah luas dan jumlah pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang dikuasai siswa. Pada umumnya alat evaluasi hasil belajar yang digunakan adalah tes yang telah dibakukan atau tes buatan guru.
2.    Pembelajaran dengan strategi inkuiri
Perilaku mengajar dengan strategi inkuiri juga disebut sebagai model inkuiri. Model inkuiri merupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mngelola pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Dalam model inkuri siswa dirancang untuk terlibat dalam melakukan inkuiri. Model pengajaran inkuiri merupakan pengajaran yang terpusat pada siswa. Dalam pengajaran ini siswa menjadi aktif belajar. Tujuan utama model inkuiri adalah mengembangkan keterampialan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secra ilmiah.
Peranan guru yang penting adalah : (i) menciptakan suasana bebas berpikir sehingga siswa berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah, (ii) fasilitator dalam penelitian, (iii) rekan diskusi dalam klaisfikasi dan pencarian alternatif pemecah masalah, (iv) pembimbing penelitian, pendorong keberanian berpikir alternatif dalam pemecahan masalah.
Peranan siswa yang penting adalah : (i) mengambil prakarsa dalam pencarian masalah dan pemecahan masalah, (ii) pelaku aktif dalam belajar melakukan penelitian (iii) penjelajah tentang masalah dan metode pemecahan (iv) penemu pemecah masalah
Evaluasi hasil belajar pada model inkuiru meliputi (i) keterampilan pencarian dan perumusan masalah, (ii) keterampilan pengumpulan data atau informasi, (iii) keterampilan meneliti tentang objek seperti benda, sifat benda, kondisi atau peristiwa dan pelaku (iv) keterampialn menarik kesimpulan dan (v) laporan
C.   Kemampuan yang Akan Dicapai Dalam Pembelajarn
Kemampuan yang akan dicapai dalam pembelajaran adalah tujuan pembelajaran. Ada kesenjangan antara prabelajar dengan kemampuan yang akan dicapai. Kesenjangan tersebut dapat diatasi berkat belajar bahan ajar tertentu. Kondisi kemampuan prabelajar dan kemampuan yang akan dicapai.
Pembelajaran tersebut menghasilkan suatu kegiatan belajar. Bagi siswa, kegiatan belajar berarti menggunakan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor untuk mencerna bahan ajar. Secara umum kegiatan belajar tersebut meliputi fase-fase (i) motivasi, yang berarti siswa sadar mencapai tujuan dan bertindak mencapai tujuan belajar, (ii) konsentrasi, yang berarti siswa memusatkan perhatian pada bahan ajar, (iii) mengolah pesan yang berarti siswa mengolah informasi dan mengambil makna tentang apa yang dipelajari, (iv) menyimpan, yang berarti siswa menyimpan dalam ingatan, perasaan dan kemampuan motoriknya, (v) menggali, dalam arti menggunakan hal yang dipelajari yang akan dipergunakan untuk suatu pemecahan-pemecahan, (vi) prestasi, dalam arti menggunakan bahan ajar untuk unjuk kerja, (vii) umpan balik, dalam arti siswa melakukan pembenaran tentang hasil belajar atau prestasinya.
D.   Proses Pengolahan Pesan
Ada dua jenis pengolahan pesan, yaitu secara deduktif dan induktif.
1.    Pengolahan Pesan Secara Deduktif
Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengolahan pesan secra deduktif dimulai dengan (i) guru mengemukakan generalisasi, (ii) penjelasan berkenaan dengan konsep-konsep (iii) pencarian data yang dilakukan oleh sisiwa. Pengumpulan data tersebut berguna untuk menguji kebenaran generaliasi. Dalam kegiatan ini siswa juga mengaplikasikan konsep terhadap data tertentu.
2.    Pengolahan Pesan Secara Induktif
Pengolahan pesan secara induktif bermula dari (i) fakta atau peristiwa khusus, (ii) penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta, (iii) penyusunan generalisasi berdasarkan konsep-konsep. Bila sudah ada teori yang benar, pada umunya dirumuskan hipotesis, (iv) terapan generalisasi pada data baru, atau uji hipotesis (v) penarikan kesimpulan lanjut.
Bab VIII
MASALAH-MASALAH
EKSTERN DALAM BELAJAR

A. Faktor-Faktor Ekstern Belajar
Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Di samping itu proses belajar juga dapat terjadi, atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktivasi belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun denga baik. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor ekstern yang berpengaruh pada aktivasi belajar. Faktor-faktor ekstern tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Guru Sebagai Pembina Siswa
Guru adalah pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik generasi muda bangsanya. Guru juga menumbuhkan diri secara profesional. Ia bekerja dan bertugas mempelajari profesi guru sepanjang hayat. Hal-hal yang di pelajari oleh setiap guru adalah:
(i)      memiliki integritas moral kepribadian,
(ii)     memiliki integritas intelektual berorientasimkebenaran,
(iii)    memiliki integritas relijius dalam konteks pergaulan dalam masyarakat majemuk,
(iv)     mutu keahlian bidang studi sesuai dengan kemampuan ilmu mempertinggi pengetahuan, teknologi, dan seni,
(v)      memahami, menghayati, dan mengamalkan etika profesi guru,
(vi)     bergabung dengan asosiasi profesi, serta
(vii)    mengakui dan menghormati martabat siswa sebagai klien guru.

         Mengatasi masalah-masalah keutuhan secara pribadi, dan pretumbuhan profesi sebagai guru merupakan pekerjaan sepanjang hayat. Adapun tugas pengolahan pembelajaran siswa meliputi hal-hal sebagai berikut:
(i)        pembangunan hubungan baik dengan siswa,
(ii)      menggairahkan minat, perhatian, dan memperkuat motivasi belajar,
(iii)     mengorganisasi belajar,
(iv)     melaksanakan pendekatan pembelajaran secara tepat,
(v)      mengevaluasi hasil belajar secara jujur dan objektif, serta
(vi)     melaporkan hasil belajar siswa kepada orang tua siswa yang berguna bagi orientasi masa depan siswa.
2.    Prasarana dan Sarana Pembelajaran
         Prasarana pembelajaran meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olah raga, ruang ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah, dan berbagai media pengajaran yang lain. Lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik.
         Dengan tersedianya prasarana dan sarana belajar berarti menuntut guru dan siswa dalam menggunakannya. Peranan guru adalah sebagai berikut:
(i)        memelihara, mengatur prasarana untuk menciptakan suasana belajar yang menggembirakan,
(ii)      memelihara dan mengatur sasaran pembelajaran yang berorientasi pada keberhasilan siswa belajar, dan
(iii)     mengorganisasi belajar siswa sesuai dengan prasarana dan sarana secara tepat guna.
         Sedangkan peranan siswa adalah sebagai berikut:
(i)        ikut serta memelihara dan mengatur prasarana dan sarana secara baik,
(ii)      ikut serta dan berperan aktif dalam pemanfaatannya, dan
(iii)     menghormati sekolah sebagai pusat pembelajaran.
3.    Kebijakan Penilaian
         Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau untuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut, proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian. Dengan penilaian yang di maksud adalah penentuan sampai suatu dipandang berharga, bermutu, atau bernilai. Guru adalah pemegang kunci pembelajaran yang menyusun desain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.
4.    Lingkungan Sosial Siswa di Sekolah
         Siswa-siswa di sekolah membentuk suatu lingkungan pergaulan yang dikenal sebagai lingkungan siswa. Dalam lingkungan sosial tersebut ditemukan adanya kedudukan dan peranan tertentu. Tiap suswa dalam lingkungan sosial memiliki kedudukan, peranan, dan tanggung jawab sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan, seperti hubungan akrab, kerja sama, kerja berkoperasi, berkompetisi, berkonkurensi, bersaing, konflik, atau perkelahian.
         Pengaruh lingkungan sosial berupa hal-hal berikut:
(i)        pengaruh kejiwaan yang bersifat menerima atau menolak siswa, yang akan berakibat memperkuat atau memperlemah konsentrasi belajar,
(ii)      lingkungan sosial mewujud dalam suasana akrab, gembira, rukun dan damai. Suasana kejiwaan tersebut berpengaruh pada semangat dan proses belajar,
(iii)     lingkungan sosial siswa di sekolah atau juga di kelas dapat berpengaruh pada semangat belajar kelas.
5.    Kurikulum Sekolah
         Program pembelajaran di sekolah mendasarkan diri pada suatu kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan. Kurikulum sekolah tersebut berisi tujuan pendidikan, isi pendidikan, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Berdasarkan kurikulum tersebut guru menyusun desain instruksional untuk membelajarkan siswa.
         Perubahan kurikulum sekolah menimbulkan masalah. Masalah-masalah itu adalah sebagai berikut:
(i)        tujuan yang akan dicapai mungkin berubah. Bila tujuan berubah, berarti pokok bahasan, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi akan berubah.
(ii)      isi pendidikan berubah; akibatnya buku-buku pelajaran, buku bacaan, dan sumber yang lain akan berubah,
(iii)     kegiatan belajar mengajar berubah ; akibatnya guru harus mempelajari strategi,metode, tehnik, dan pendekatan belajar yang baru,
(iv)     evaluasi berubah; akibatnya guru harus mempelajari metode dan tehnik evaluasi belajar yang baru.
B. Cara Menentukan Masalah-Masalah Belajar
         Program pembelajaran merupakan hal yang kompleks. Kekompleksan itu terentang dari:
(i)        konstruksi kurikulum dan pemberlakuan kurikulum sekolah,
(ii)      tugas guru menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi program pembelajaran,
(iii)     peran siswa dalam proses belajar yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
         Dengan demikian sebagai pendidik generasi muda bangsa, guru berkewajiban mencari dan menemukan masalah-masalah belajar yang di hadapi oleh siswa.
1.    Pengamatan Prilaku Belajar
         Sekolah merupakan pusat pembelajaran. Guru bertindak menjelaskan, dan siswa bertindak belajar. Tindakan belajar tersebut dilakukan oleh siswa. Sebagai lazimnya tindakan seseorang, maka tindakan tersebut dapat diamati sebagai prilaku belajar.
         Guru selaku pembelajar bertindak membelajarkan dengan mengajar. Guru selaku pengamat, melakukan pengamatan terhadap prilaku siswa. Dalam pengamatan tersebut guru juga mewancarai siswa atau teman belajarnya. Jadi, ada perbedaan peran guru, yaitu peran membelajarkan dan peran mengamat untuk menemukan masalah-masalah belajar. Bila masalah siswa ditemukan, maka sebagai pendidik, guru berusaha membantu memecahkan masalah belajar.
2.    Analisis Hasil Belajar
         Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar tiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Analisis hasil belajar siswa merupakan pekerjaan khusus. Hal ini pada tempatnya dikuasai dan dikerjakan oleh guru. Dalam analisis hasil belajar pada tempatnya guru melakukan langkah-langkah berikut:
(i)        merencanakan analisis sejak awal semester, sejalan dengan desain instruksional,
(ii)      merencanakan jenis-jenis pekerjaan siswa yang di pandang sebagai hasil belajar,
(iii)     merencanakan jenis-jenis ujian dan alat evaluasi,
(iv)     mengumpulkan hasil belajar siswa,
(v)      melakukan analisis secara statistiktentang angka-angka perolehan ujian dan mengategori karya-karya yang tidak bisa diangkakan,
(vi)     mempertimbangkan hasil pengamatan pada kegiatan belajar siswa,
(vii)    mempertimbangkan tingkat kesukaran bahan ajar bagi kelas, yang dibandingkan dengan program kurikulum yang berlaku,
(viii)  memperhatikan kondisi-kondisi ekstern yang berpengaruh atau diduga ada pengaruhnya dalam belajar,
(ix)     guru juga melancarkan suatu angket evaluasi pembelajaran pada siswa menjelang akhir semester.
3.    Tes Hasil Belajar
         Pada penggal proses belajar dilancarkan tes hasil belajar. Adapun jenis tes yang digunakan  umumnya digolongkan sebagai tes lisan dan tes tertulis. Tes hasil belajar adalah alat untuk membelajarkan siswa. Tes hasil belajar dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar dan mencari masalah-masalah dalam belajar. Untuk menilai kemajuan dalam belajar, pada umumnya penyusun tes adalah oleh guru itu sendiri. Untuk mencari masalah-masalah dalam belajar, sebaiknya penyusun tes adalah tim guru bersama-sama konselor sekolah. Oleh karena itu, pada tempatnya guru profesional memiliki kemampuan melakukan penelitian secara sederhana.




















BAB IX
TRANSFER, LUPA, JENUH, DAN KESULITAN BELAJAR
A.TRANSFER BELAJAR
            Pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai hasil belajar pada masa lalu sering kali mempengaruhi proses belajar yang di alaminya sekarang. Inilah yang disebut transfer dalam belajar. Transfer dalam belajar yang lazim disebut transfer belajar (transfer of learning) itu mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari situasi ke situasi lainya (Reber 1988).
          Peristiwa pemindahan pengaruh (transfer) sebagaimana tersebut di atas pada umumnya hampir selalu membawa dampak positif dan negative terhadap aktifitas dan hasil pembelajaran materi pelajaran atau keterampilan lain.
          Menurut Theory of Indencial Element yang dikembangkan oleh E.L Thorndike, transfer positif biasanya terjadi apabila ada kesamaan element antara materi yang lama dengan yang baru. Contoh : seorang siswa yang telah menguasai matematika akan mudah mempelajari statistika.
1.    Ragam Transfer Belajar
          Selanjutnya, menurut Gagne  seorang education psychologist  (pakar pisikologi pendidikan). Transfer dalam belajar dapat di golongkan menjadi 4 :
1)         Transfer positif, yaitu transfer yang ber efek  baik terhadap kegiatan       belajar selanjutnya
2)         Transfer negative, transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar
      selanjutnya
3)         Transfer vertical, Transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar                pengetahuan atau keterampilan yang lebih tinggi
4)         Transfer lateral, transfer yang berefek baik pada kegiatan belajar belajar              pengetahuan keterampilan yang sederajat.
a.       Transfer Positif
            Transfer positif menurut  Barlow (1985) adalah learning in one situation helpful in other situation, yakni belajar dalam suatu situasi yang dapat membantu belajar dalam situasi-situasi lain.
b.      Transfer Negatif
            Tranfer negatif dapat di alami seorang siswa apabila ia belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak terhadap keterampilan  atau pengetahuan yang di pelajari dalam sitiasi-situasi lainnya. Pengertian ini di ambil dari Education psyology : The Teaching Learning Procces oleh Daniel Lenox Barlow (1985) yang menyatakan bahwa transfer negative itu berarti, Learning in one situation has a damaging effect in other situations.
c.       Terjadinya transfer belajar positif
            Transfer positif, akan mudah terjadi pada diri seorang siswa apabila situasi belajarnya dibuat sama atau mirip dengan situasi sehari-hari yang akan di tempati siswa tersebut kelak dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah ia pelajari di sekolah. Transfer positif dalam pengertian seperti inilah sebenarnya yang perlu di perhatikan guru, mengingat tujuan pendidikan secara umum adalah terciptanya sumber daya manusia berkualitas yang adaptif. Kualitas seperti inilah yang semestinya di dapat dari lingkungan pendidikan untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
            Oleh sebab itu, setiap lembaga pendidikan terutama jenjang pendidikan menengah , perlu menyediakan kemudahan-kemudahan belajar. Sementara itu, menurut teori yang di kembangkan Throndike, Transfer positif hanya akan terjadi apabila dua materi pelajaran memiliki kesamaan unsur.
            Berdasarkan hasil-hasil riset kognitif, Anderson (1990) yakin bahwa transfer positif hanya akan terjadi pada diri seseorang siswa apabila dua wilayah pengetahuan atau keterampilan yang di pelajari siswa tersebut menggunakan dua factor dan pola yang sama, dan membuahkan hasil yang sama pula.
            Sesungguhnya transfer itu merupakan peristiwa kognitif yang terjadi karena belajar. Jadi, belajar dalam hal ini sebaiknya di pandang sebagai keadaan keadaan sebelum transfer atau syarat sebelum transfer. Dengan demikian anggapan bahwa transfer itu spontan dan mekanis (seperti mesin /robot) sebenarnya berlawanan dengan hakikat belajar itu sendiri, yakni perbuatan siswa yang sedikit atau banyak selalu melibatkan aktifitas rana kognitif. Transfer negative, menurut Anderson (1990) dan Lawson (1991) tak perlu di khawatirkan  lantaran sangat jarang terjadi.
d.      Transfer dari Short-term Memory ke Long-term Memory
            Memori (ingatan)  jangka pendek (Short-term Memory/ working memory) dan memori jangka panjang (Long-term Memory/ permanent memory).
            Consolidation. Dalam melakukan konsolidasi, siswa hendaknya mengintegrasikan pengetahuan / informasi  baru dengan pengetahuan / informasi yang sebelumnya telah ada dalam ingatan/ memori.
            Metamemory. Dalam meningkatkan keberhasilan konsolidasi diperkukan adanya metemory strategy. Metamemory secara sederhana berarti diatas atau di luar kelaziman memori dan ia merupakan salah satu komponen metacognition. Strategi metamemory dapat berupa mnemonic device, yakni bermacam-macam alat rekayasa akal.
            Rehearsal. Hafalan / menghafal baik secara terbuka/ dengan suara keras maupun secara tersembunyi / tidak terdengar, merupakan salah satu cara yang baik dalam mempertahankan informasi dan pengetahuan dalam memori.

B. LUPA DAN KEJENUHAN BELAJAR
1.   Peristiwa lupa dalam belajar
            Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa- apa yang sebelumnya kita pelajari. Witting (1981) menyimpulkan berdasarkan penelitian, peristiwa lupa yang di alami seseorang tak mungkin di ukur secara langsung.
a.       Faktor-faktor penyebab lupa
            Pertama, lupa dapat terjadi karena ganguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam system memori siswa. Dalam teori mengenai ganguan, ganguan konflik ini terbagi menjadi dua macam, yaitu;
1. proactive interference
2. retroactive interference (Reber 1988; best, 1989; Anderson, 1990).
            Kedua, Lupa dapat terjadi pada seorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja atau tidak. Penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan, yaitu:
1)    Karena item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan, dsb) yang            diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia menerkanya hingga ke alam        ketidaksadaran.
2)    Karena item informasi yang baru secara otomatis menekan item informasi yang telah ada, jadi sama dengan fenomena retro aktif.
            Ketiga, Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajardengan waktu mengingat kembali.
            Keempat, Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi nelajar tertentu.
            Kelima, menurut law of disuce (Hilgard & Bower 1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah di kuasai tidak pernah digunakan atau di hafalkan siswa.
            Keenam, lupa tentu saja dapat terjadi karena perubahan urat syaraf otak.
b.      Kiat mengurangi lupa dalam belajar
            Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siwa. Banyak ragam kiat yang dapat di coba siswa dalam meningkatkan daya ingatnya, antara lain menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990) adalah sebagai berikut.
-          Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu
-          Extra study time(tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi (kekerapan) aktifitas belajar. Penambahan frekuensi belaja berarti siswa meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua kali sehari .
-          Mnemonic device (melihat memori) yang sering juga hanya disebut mnemonic  itu berarti kiat khusus yang dijadikan ,,alat pengait”mental untuk memasukkan item – item informasi kedalam akal siswa.
-          rima  (Rhme), yakni sejak yang dibuat sedemiakain rupa yang isisnya terdiri atas kata dan istilah yang harus diagkat  siswa.
-          Sistem kata pasak (peg word system) yakni sejenis  teknik mnemonic yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya sudah dikuasai sebagai pasak (paku) pengingat memori  baru.
-          Metode Losai(Method of Loci), yaitu kiat mnemonik yang menggunakan tempat – tempat khusus dan terkenal sebangai sarana penempatan kata dan istilah tertentu  yang harus diingat siswa.
-          Sistem kata kunci (key word system), kiat mnemonic yang satu ini relatif tergolong baru dibanding dengan kiat-kiat mnemonic lainnya.
2.   Peristiwa Jenuh Dalam Belajar
a.      Definisi Jenuh
            Secara harfiah, arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga  tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, disamping siswa sering mengalami kelupaan, ia juga terkadang mengami peristiwa nengatif lainya yang disebut jenuh belajar yang dalam bahasa psikologi lazim disebut leaning plateau .
            Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber 1988). Seorang siswa yang sedang alam keadan jenuh system akalnya tak dapat bekerja sebagaimana yang diharafkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan bejarnya seakan-akan “jalan ditempat”
b.      Faktor Penyebab dan Cara Mengatasi Kejenuhan Belajar
            Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi dan kehilangan konsolodasi salah satu tinggat keterampilan beritanya, (1972) selain itu, kejenuhan juga dapat terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaninya karena bosan (boring), penyebab kejenuhan yang paling umum adalah keletihan yang melanda siswa, karna keletihan dapat penyebab  munculnya perasaan bosan pada siwa yang bersangkutan.
            Menurut Cross (1274) dalam bukunya The Psychology Of Learning, kelitan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam yaitu :
1.      Keletihan indera siswa
2.      Keletihan fisik siswa
3.      Keletihan mental sisiwa
4.      Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom pisikologis berupa learning disability (ketidak mampuan belajar) yang menimbulkan kesulitan belajar itu terdiri atas :
1.      Disleksia, ketidak mampuan belajar membaca
2.      Disgrafia, ketidak mampuan belajar menulis
3.      Diskalkulia, ketidak mampuan belajar matematika
            Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak.







BAB XI
PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
A.  Model Pengembangan Kurikulum Rogers
     Ada beberapa model yang dikemukakan Rogers, yaitu jumlah dari model yang paling sederhana sampai dengan yang berikutnya, sebenrnya merupakan penyempurnaan dari model-model sebelumnya. Adapun model-model tersebut (ada empat model) dapat dikemukakan sebagai berikut :
     Model I. Model yang paling sederhana yang menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri atas kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran). Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan adalah evaluasi dan evaluasi adalah pendidikan, serta pengetahuan adalah akumulasi materi dan informasi, model tersebut merupakan model tradisional yang masih dipergunakan. Model I ini mengabaikan cara-cara (metode) dalam proses berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan urutan atau organisasi bahwa pelajaran secara sistematis, suatu hal yang seharusnya dipertimbangkan juga.
     Model II. Model ini dilakukan dengan menyempurnakan model I dengan menambahkan kedua jawaban pada pertanyaan (3 dan 4) tersebut, yaitu tentang metode dan organisasi bahan pelajaran.
     Dalam pengembangan kurikulum pada Model II di atas, sudah dipikirkan pemilihan metode yang efektif bagi berlangsungnya proses pengajaran. Di samping itu, bahan pelajaran juga sudah disusun secara sistematis, dari yang mudah ke yang lebih sukar dan juga memperhatikan luas dan dalamnya suatu bahan pelajaran. Akan tetapi, Model II belum memperhatikan masalah teknologi pendidikan yang sangat menunjang keberhasilan kegiatan pengajaran. Teknologi pendidikan yang dimaksud adalah berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan :
1)   Buku-buku pelajaran apakah yang harus dipegrunakan dalam suatu mata pelajaran?
2)       Alat atau media pengakaran apa yang dapat dipergunakan dalam mata pelajaran tertentu.
Model III. Pengembangan kurikulum ini merupakan penyempurnaan Model II yang belum dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan 5 dan 6, yaitu dengan memasukkan unsur teknologi pendidikan ke dalamnya.
Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada bahan pelajaran hanya akan sampai pada Model III. Padahal masih ada satu lagi masalah pokok yang harus diperhatikan, yaitu yang berkaitan dengan masalah tujuan.
Model IV. Merupakan penyempurnaan Model III, yaitu dengan memasukkan tujuan ke dalamnya. Tujuan itulah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain, baik metode, organisasi bahan, teknologi pengajaran, isi pelajaran maupun kegiatan penilaian yang dilakukan.
B.  Model Administratif
                      Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Model administratif sering pula disebut sebagai model “garis staf” (line staff) atau “dari atas ke bawah” (top down), karena inisiatif dan gagasan dari pada administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan (dirjen, direktur atau kakanwil pendidikan dan kebudayaan) membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum, yang anggotanya terdiri atas pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli  disiplin ilmu, tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugasnya komisi atau tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah hal-hal mendasar ini terumuskan dan mendapatkan pengkajian yang seksama, administrator pendidikan menyisin komisi atau tim kerja pengembangan kurikulum. Tugas tim kerja ini adalah untuk merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan umum, memilih dan menyusun sekuens bahan pelajaran, memilih strategi pengajharan dan evaluasi serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut bagi pengajar.
                      Setelah semua tugas ini dari tim kerja selesai, hasilnya dikai ulang oleh tim pengarah untuk mendapatkan penyempurnaan, dan jika dinilai telah cukup baik, administrator menetapkan berlakunya kurikulum tersebut dan memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum tersebut. Model kurikulum seperti ini mudah dilaksanakan pada negara yang menganut sistem sentralisasi dan negara yang kemampuan profesional tenaga pengajarnya masih rendah.
C.  Model dari Bawah (The Grass Roots Model)
            Model dari bawah ini merupakan lawan dari model administratif. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum berasal dari bawah, yaitu para pengajar yang merupakan pelaksana kurikulum di sekolah-sekolah. Model ini mendasar pada anggapan bahwa penerapan suatu kurikulum akan lebih efektif jika para pelaksananya diikutsertakan pada kegiatan pengembangan kurikulum.
            Pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum model ini adalah pengembangan kurikulum secara demokratis yaitu berasal dari bawah. Guru adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya, guru yang paling tahu kebutuhan kelasnya. Oleh karena itu, dialah yang kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
            Keuntungan model ii adalah proses pengambilan keputusan terletak pada para pelaksana, mengikutsertakan berbagai pihak bawah khususnya para pengajar. Pengembangan kurikulum model dari bawah ini menuntut adanya kerjasama antar guru, antar sekolah-sekolah, serta harus ada kerjasama antar pihak orang tua murid dan masyarakat. Model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum.
            Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan model ini memungkinkan terjadinya kompetisi didalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan sehingga dapat melahirkan manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
D. Model Beauchamp (Beauchamp’s System)
                      Sesuai dengan namanya, model ini diformulasikan oleh G.A. Beauchamp’s (1964), ia mengemukakan lima hal penting dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1.  Menetapkan “arena atau lingkup wilayah” yan akan dicakup oleh kurikulum tersebut,m yaitu berupa kelas, sekolah, sistem persekolahan regional atau nasional.
2.      Menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu : (1) para ahli pendidikan/kurikulum dan para ahli bidang dari luar, (2) para ahli pendidikan dari perguruan tinggai atau sekolah dan guru-guru terpilih, (3) para profesional dalam sistem pendidikan, (4) profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
3.       Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini untuk    merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, kegiatan evaluasi dan menentukan seluruh desain kurikulum. Beauchamp membagi kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu (1) membentuk tim pengembang kurikulum, (2) mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang digunakan, (3) studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru, (4) merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan-penentuan kurikulum baru, (5) penyusunan dan penulisan kurikulum bru.
4.      Implementasi kurikulum. Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum secara sistematis di sekolah.
5.      Evaluasi kurikulum. Merupakan langkah terakhir yang mencakup empat hal, yaitu : (1) evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru, (2) evaluasi desain kurikulum, (3) evaluasi hasil belajar siswa, (4) evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum. Data yang diperoleh dari hasil kegiatan evaluasi ini digunakan bagi penyempurnaan sistem dan desain kurikulum serta prinsip pelaksanaannya.
E. Model Terbaik Hilda Taba (Taba’s Inverted Model)
                      Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Taba berbeda dengan cara lazim yang bersifat deduktif karena caranya yang bersifat induktif. Itulah sebabnya model ini disebut “model terbalik”. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model taba ini, yaitu :
1)      Mengadakan unit-unit eksperimen kerjasama guru-guru. Didalam unit  eksperimen ini diadakan studi yang seksama tentang hubungan antara teori dan praktek. Ada delapan langkah kegiatan dalam unit eksperimen ini : (1) mendiagnosis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan khusus, (3) memilih isi, (4) mengorganisasi isi, (5) memilih pengalaman belajar, (6) mengorganisasi pengalaman belajar, (7) mengevaluasi, (8) melihat sekuens dan keseimbangan.
2)      Menguji unit eksperimen. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan kepraktisannya untuk kelas-kelas atau tempat lain.
3)     Mengdakan revisi dan konsolidasi terhadap hasil unit eksperimen
4)     Menyusun kerangka kerja teoritis. Perkembangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan yang berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan apa isi unit-unit yang disusun secara berurutan itu telah berimbang ke dalamnya dan keluasannya, dan apakah pengalaman belajar telah memungkinkan belajarnya kemampuan intelektual dan emosional.
5)     Menyusun kurikulum, yang dikembangkan secara menyeluruh dan mendiseminasikan (menerapkan kurikulum pada daerah atau sekolah yang lebih luas).
                                  Pengembangan kurikulum realitas dengan pelaksanaannya, yaitu melalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yang profesional. Dengan demikian, model ini benar-benar memadukan teori dan praktek.
F. The Systemic Action-Research Model
                      Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi ahwa perkembangan kurikulu merupakan perubahan sosial. Hal ini mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa, guru, struktur sistem sekola, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut, model ini menekankan pada tiga hal, yaitu : hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat serta wibawa dari pengetahuan profesional. Penyusunan kurikulum dengan memasukkan pandangan dan harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action-research.
                      Langkah pertama, mengadakan kajian secara seksama tentang masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut. Dari hasil kajian itu, disusun rencana menyeluruh tentang cara-cara mengatasi masalah dan tindakan apa yang harus diambil.
                      Langkah kedua, mengimplementasi dari keputusan yang diambil dengan kegiatan mengumpulkan data dan fakta. Kegiatan ini mempunyai beberapa fungsi yaitu : (1) menyiapkan data bagi evaluasi tindakan, (2) sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi, (3) sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi, (4) sebagai bahan untuk menentukan tindakan lebih lanjut.
G. Emerging Technical Models
                      Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan seerta nilai-nilai efisiensi dan efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model kurikulum. Tumbuh kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya :
1)               The Behavioral Analysis Model. Menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku / kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku yang sederhana yang tersusun secara hirarkis.
2)     The System Analysis Model. Berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasi siswa. Langkah kedua menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil belajar tersebut. Langkah ketiga mengidentifikasi tahap-tahap hasil yang dicapai serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.
3)               The Computer-Based Model. Suatu pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi seluruh unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru diminta untuk melengkapi pertanyaan tentang unit kurikulum tersebut. Stelah diadakan pengolahan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil belajar siswa disimpan dalam komputer.














           

BAB XII
EVALUASI PEMBELAJARAN
1.    Fungsi dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran
      Tujuan utama dari evaluasi pembelajaran adalah sejumlah informasi atau data tentang
jasa, nilai atau manfaat kegiatan pembelajaran.
a.    Fungsi dan tujuan evaluasi pembelajaran untuk pengembangan.
           Evaluasi pembelajaran berfungsi dan bertujuan untuk pengembangan pembelajaran, maka evaluasi pembelajaran sedang menjalankan fungsi formatif. Hal ini bertitik tolak dari pandangan bahwa fungsi formatif evaluasi dilaksanakan apabila hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu atau sebagian besar bagian kurikulum (pembelajaran) yang sedang dikembangkan (Hasan, 1988 : 39). Memperbaiki bagian tertentu atau sebagian besar aspek pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan pengembangan pembelajaran.
  1. Fungsi dan tujuan evaluasi pembelajaran untuk akreditasi.
           Orang-orang yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan pada umumnya mengenal pengertian akreditasi sebagai suatu penilaian yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sekolah swasta untuk menentukan peringkat pengakuan pemerintah terhadap sekolah tersebut (Arikunto, 1990 : 186).
Akreditasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses dengan suatu program atau institusi (lembaga) diakui sebagai badan yang sesuai dengan beberapa standar yang telah disetujui (Scravia B. Anderson dalam Arikunto, 1990 : 186).
Ada beberapa aspek yang dinilai dalam menentukan akreditasi suatu lembaga pendidikan, salah satu aspek/komponen yang dinilai adalah pembelajaran. Dengan demikian fungsi dan tujuan evaluasi hasil belajar untuk akreditasi dilaksanakan apabila hasil kegiatan evaluasi pembelajaran digunakan sebagai dasar akreditasi lembaga pendidikan.
2.    Sasaran Evaluasi Pembelajaran
Sasaran evaluasi pembelajaran adalah aspek-aspek yang terkandung dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian sasaran evaluasi pembelajaran meliputi: tujuan pengajaran, unsur dinamis pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan kurikulum.
  1. Tujuan pembelajaran merupakan sasaran evaluasi pembelajaran yang perlu
diperhatikan. Hal yang perlu dievaluasi pada tujuanpengajaran adalah Penjabaran tujuan pengajaran, rumusan tujuan pengajaran, dan unsur-unsur tujuan pengajaran. Penjabaran tujun penjabaran yang dimaksudkan adalah penjabaran dimulai dari tujuan pengajaran tertinggi sampai tujuan pengajaran yang terendah, seringkali disebut hierarki tujuan. Tujuan pengajaran tertinggi adalah tujuan pengajaran nasional.
  1. Unsur dinamis pembelajaran merupakan sasaran evaluasi pembelajaran yang
kedua. Yang dimaksud dengan unsur dinamis pembelajaran adalah sumber belajar atau komponen system instruksionl yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Sumber belajar meliputi: Pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar (AECT, 1986 : 2).
      Sumber-sumber belajar dibedakan menjadi dua jenis:
(i)                 sumber belajar yang dirancang, dan
(ii)               sumber belajar karena dimanfaatkan.
            Sumber belajar disebut unsur dinamis pembelajaran karena setiap perubahan yang terjadi pada salah satu sumber belajar akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada kegiatan pembelajaran.
            Pesan dapat diartikan sebagai informasi yang disampaikan oleh sumber belajar atau komponen system instruksional yang lain dan berbentuk gagasan , fakta, makna, dan data (AECT, 1986 : 195). Orang sebagai sumber belajar adalah orang yang bertindak sebagai penyimpanan atau penyalur pesan (AECT, 1986 : 10).
            Bahan adalah barang-barang (lazim disebut perangkat lunak) yang biasanya berisikan pesan untuk disampaikan dengan menggunakan peralatan, kadang-kadang bahan itu sendiri sudah merupakan  bentuk penyajian (AECT, 1986 : 10).
            Alat merupakan barang-barang (lazim disebut perangkat keras) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang terdapat dalam bahan (AECT, 1986 : 10).
            Teknik adalah prosedur atau langkah-langkah tertentu dalam menggunakan bahan, alat, tata tempat, dan orang untuk menyampaikan, pesan (AECT, 1986 : 10).         Latar merupakan sumber belajar berupa lingkungan tempat pesan diterima oleh siswa (AECT, 1986 : 10).
  1. Sasaran evaluasi pembelajaran lainnya adalah pelaksanaan pembelajaran. Sasaran evaluasi pembelajaran secara lebih terperinci diantaranya adalah:
-          Kesesuaian pesan dengan tujuan pengajaran.
-          Kesesuaian sekuensi penyajian pesan kepada siswa.
-          Kesesuaian bahan dan alat dengan pesan dan tujuan pengajaran.
-          Kemampuan guru menggunakan bahan dan alat dalam pembelajaran.
-          Kemampuan guru menggunakan teknik pembelajaran.
-          Kesesuaian teknik pembelajaran dengan pesan dan tujuan pengajaran.
-          Interaksi siswa dengan siswa lain.
-          Interaksi guru dengan siswa.
  1. Kurikulum adalah seperangkat komponen pembelajaran yang diuraikan secara tertulis pada bahan tercetak atau buku. Kurikulum sebagai sasaran evaluasi pembelajaran akan meliputi:
-          Tersedianya dan sekaligus kelengkapan komponen kurikulum.
-          Pemahaman terhadap prinsip-prinsip pengembangan dan pelaksanaan kurikulum.
-          ;Pemahaman terhadap struktur program kurikulum.
-          Pemahaman terhadap GBPP.
-          Pemahaman terhadap teknik pembelajaran.
-          Pemahaman terhadap pembinaan guru.
-          Pemahaman terhadap bimbingan siswa.
  1. Prosedur Evaluasi Pembelajaran
Ditinjau dari sasaran evaluasi pembelajaran dapat kiranya kita bayangkan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan oleh evaluator. Oleh karena oitulah dapat diungkapkan bahwa evaluator dalam evaluasi pembelajaran adalah suatu tim yang mempunyai peran penting dalam memverikan informasi mengenai keberhasilan pembelajaran.
Prosedur evaluasi pembelajaran terdiri dari lima tahapan, yakni penyusunan rancangan (desain), penyusunan instrument, pengumpulan data, dan penyusunan laporan evaluasi pembelajaran.
  1. Penyusunan Rancangan
Secara garis besar desain evaluasi pembelajaran berisi hal-hal yang sama dengan yang tertera dalam desain penelitian.
Untuk memperjelas penyusunan rancangan evaluasi pembelajaran,akan diuraikan secara singkat tiap-tiap langkah kegiatannya:
  1. Menyusun latar belakang yang berisikandasar pemikiran dan/atau rasional penyelenggaraan evaluasi.
  2. Problematika berisi rumusan permasalahan yang akan dicari jawabannya baik secara umum maupun terperinci.
  3. Tujuan evaluasi merupakan rumusan yang sesuai dengan problematika evaluasi pembelaaran, yakni perumusan tujuan umum dan tujuan khusus.
  4. Populasi dan sampel, yakni sejumlah komponen pembelajaran  yang dikenai evaluasi pembelajaran dan yang dimintai informasi dalam kegiatan evaluasi pembelajaran.
  5. Instrumen adalah semua jenis alat pengumpulan informasi yang diperlukan sesuai dengan teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam evaluasi pembelajaran.
Sumber data adalah dokumen, kegiatan, atau orang yang dapat memberikan informasi atau data yang diperlukan.
  1. Teknik analisis data, yakni cara yang digunakan untuk menganalisis data yang disesuaikan dalam bentuk problematik dan jenis data. (Arikunto, 1988 : 44-47)
  1. Penyusunan Instrumen
Setelah seorang evaluator menyusun rancangan evaluasi pembelajaran, maka tahapan berikutnya adalah penyusunan instrumen evaluasi pembelajaran. Menurut Arikunto (1988 : 48-49) langkah-langkah penyusunan instrument adalah:
(i)                 Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun.
(ii)               Membuat kisi-kisi yang mencanangkan tentang perincian variabel dan jenis instrument yang akan digunakan untuk mengukur bagian variable yang bersangkutan.
(iii)             Membuat butir-butir instrument evaluasi pembelajaran yang dibuat berdasarkan kisi-kisi, dan
(iv)             Menyunting instrument evaluasi pembelajaran yang meliputi; mengurutkan butir menurut sistematika yang dikehendaki evaluator untuk mempermudah pengolahan data, menuliskan petunjuk pengisian dan identitas serta yang lain, dan membuat pengantar pengisian instrument.
Semua langkah yang dilaksanakan dalam penyusunan instrument diatas berisikan kegiatan seperti yang telah direncanakan dalam rancangan evaluasi pembelajaran.
  1. Pengumpulan Data
Setelah instrument evaluasi pembelajaran siap pakai, maka langkah berikutnya adalah dating kepada sumber data untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Setiap teknik pengumpulan dta mempunyai prosedur yang berbeda-beda seperti dibahas berikut ini.
1. Kuesioner yakni seperangkat pertanyaan tertulis yang diberikan kepada seseorang untuk mengungkap pendapat, keadaan, kesan yang ada pada diri orang tersebut maupun diluar dirinya (Arikunto, 1988 : 53). Orang disini adalah semua orang yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan pembelajaran yang diminta mengisi kuesioner.
Kegiatan yang sebaiknya dilakukan oleh evaluator dalam menerapkan teknik kuesioner ini adalah:
-          mengujicobakan kuesioner kepada sejumlah orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan yang akan mengisi angket.
-          Melancarkan penyebaran kuesioner kepada orang yang dituju.
-          Mengumpulkan dan mengadministrasikan kuesioner, dan
-          Mengolah data yang berhasil dikumpulkan.
2. Wawancara yakni suatu teknik pengumpulan data yang menuntut adanya pertemuan langsung atau komunikasi langsung antara evaluator dengan sumber data. Langkah kegiatan yang hendaknya dilakukan oleh evaluator dalam menerapkan teknik wawancara ini adalah:
-          menyusun pedoman wawancara atau daftar cocok (check-list) sesuai dengan data yang akan dikumpulkan.
-          evaluator yang bertindak hanya sebagai pengumpul data perlu memahami tujuan dan petunjuk penggunaan wawancara.
-          melaksanakan wawancara.
-          menyusun sesegera mungkin jawaban hasil wawancara, dan
-          mengolah data hasil wawancara.
3. Pengamatan merupakan teknik pengumpulan data melalui kegiatan mengamati yang dilakukan oleh evaluator terhadap kegiatan pembelajaran. Langkah-langkah yang ditempuh oleh evaluator dalam menerapkan teknik ini adalah:
- menyusun instrumen pengamatan sesuai dengan informasi yang ingin dikumpulkan.
- melaksanakan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran untuk mengumpulkan informasi dengan menggunakan instrument yang ada, dan
- mengolah data yang berhasil dikumpulkan.
4. Studi kasus adalah teknik pengumpulan data berdasarkan kasus –kasus yang ada dan didokumentasikan. Teknik pengumpulan data ini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang keadaan yang menyimpang dalam suatu kegiatan pembelajaran.
Langkah-langkah yang ditempuh oleh evaluator dalam menerapkan teknik ini adalah:
-          Menyusun instrumen studi kasus.
-          Melaksanakan kegiatan lapangan, dan
-          Mengolah data yang diperoleh.
  1. Analisis Data
Data atau informasi yang berhasil dikumpulkan selanjutnya diolah dan dianalisis. Sebagaimana halnya dalam evaluasi belajar, data dapat diolah secara individual, ataupun secara kelompok.
Apabila data diolah dan dianalisis secara individual, maka hasilnya menunjuk kepada seseorang atau suatu keadaan. Sedangkan pengolahan dan penganalisisan secara kelompok, hasilnya menunjuk kepada suatu bagian data atau keseluruhan.
Dalam kegiatan evaluasi pembelajaran, analisis data yang paling banyak dilaksanakan adalah analisis deskriptif kualitatif yang ditunjang oleh data-data kuantitatif.
  1. Penyusunan Laporan
Setelah melakukan analisis data, seorang evaluator masih harus menyusun laporan tentang evaluasi pembelajaran yang telah mereka laksanakan. Dalam laporan evaluasi pembelajaran harus berisikan pokok-pokok berikut.
  1. Tujuan evaluasi, yakni tujuan seperti yang disebutkan di dalam rancangan evaluasi pembelajaran yang didahului dengan latar belakang dan alasannya dilaksanakannya evaluasi.
  2. Problematika, berupa pertanyaan-pertanyaan yang telah dicari jawabannya melalui pengetahuan pembelajaran.
  3. Lingkup dan metodologi evaluasi pembelajaran yang dicantumkan disini adalah unsur-unsur yang dinilai dan hubungan antar variable, metode pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, teknik analisis data. Selain itu, dalam metodologi hendaknya diungkapkan pula populasi dan sample evaluasi pembelajaran.
  4. Pelaksanaan evaluasi pembelajaran, meliputi:
-          Siapa tim evaluator selengkapnya dan jika perlu dengan pembagian tanggung jawab.
-          Penjadwalan pelaksanaan evaluasi, dan
-          Kegiatan penyusunan laporan.
  1. Hasil evaluasi pembelajaran, yakni berisi tujuan pengajaran, tolok ukur, data yang diperoleh, dan dilengkapi dengan sejumlah informasi yang mendorong penemuan evaluasi pembelajaran sehingga dengan mudah pembuat keputusan dapat memahami tingkat keberhasilan pembelajaran. (Dimodifikasi dari Arikunto , 1988 : 117-118)
Demikianlah pembahasan tentang evaluasi pembelajaran, dimana kita dapat menandai bahwa evaluasi pembelajaran tidak mungkin dilakukan oleh seorang guru sendirian. Pelaksana pembelajaran adalah tim yang terdiri dari beberapa orang ahli.